Teknopreneur.com- Kota Kreatif Unesco merupakan program Unesco untuk memfasilitasi kerjasama antar kota, sekaligus dukungan Unesco atas potensi kreativitas dan inovasi yang luar biasa dari berbagai kota di dunia untuk memperluas jalannya pembangunan berkelanjutan, termasuk kota Pekalongan yang terpilih menjadi anggota baru di dalamnya.

Apa yang membuat Pekalongan terpilih den mengalahkan 5 kota besar lainnya di Indonesia? Ternyata Ada 5 Kota di Dunia (Anggota lama Jejaring Kota Kreatif Dunia Unesco), yang memberikan rekomendasi kepada Kota Pekalongan kepada Unesco untuk diterima sebagai anggota baru Kota Kreatif Dunia Unesco. Kota-kota tersebut adalah Icheon City (Korea), Aswan (Mesir), Santa Fe (Amerika), Hangzhou (China), dan Kanazawa (Japan).

Selain dukungan dari internasional, Pekalongan juga mendapat rekomendasi dari berbagai lembaga nasional seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Komisi Nasional Indonesia Unesco, Dewan Kerajinan Nasional, Indonesia Creative Center, Wastaprema (Pecinta Kain Tradisional Indonesia), Yayasan Batik Indonesia, dan lain-lain.

Dan perlu diperhatikan, sejak Kota Pekalongan secara intens fokus menjadikan potensi batik sebagai lokomotif pembangunan sosial dan ekonomi, pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan, semenjak tahun 2005 sampai sekarang terus bergerak naik yakni dari 3,82% hingga tahun 2013 menjadi  5,89%.

Dengan masuknya Kota Pekalongan sebagai anggota  kota kreatif Unesco, maka Pekalongan  harus berkolaborasi dan bekerjasama guna mempromosikan berbagai industri kreatif, saling berbagi praktek-praktek terbaik di masing-masing kota, dan memperkuat partisipasi masyarakat, serta mengintegrasikan kreativitas dan budaya dalam pembangunan sosial dan ekonomi kota.

Namun, dengan masuknya Kota Pekalongan menjadi anggota baru Kota Kreatif bahkan satu-satunya kota yang terpilih dari Asia Tenggara menjadi tugas berat di kemudian hari karena meski semua kota yang masuk Jejaring Kota Kreatif Unesco ini memiliki periode keanggotaan yang tak terbatas, tetapi  juga memungkin dicabut keanggotannya kapan saja berdasarkan penilaian Unesco.

Setiap tahunnya kota-kota terpilih wajib memberikan laporan tahunan kepada Unesco, terkait kemajuan yang dibuat terkait implementasi kebijakan dan kegiatan, baik yang bersifat lokal maupun internasional dan kerjasama dengan kota-kota lainnya. Bila sampai tidak memenuhi syarat,  atau dipandang tidak memenuhi komitmen, maka statusnya pun akan dicabut.