Teknopreneur.com – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, dalam menghadapi OTT, pendekatannya bisa melalui represif maupun bisnis. “Namun, OTT sama dengan investor sehingga tidak bisa terlalu dipaksakan atau longgar.”katanya.

Hal tersebut, seperti yang disampaikannya pada Kamis (11/12). Lebih lanjut ia pun menegaskan akan mengambil sikap netral untuk semua pihak terkait Over The Top (OTT). Pasalnya, para operator menilai OTT selama ini mengeruk keuntungan dari infrastruktur jaringan yang dimiliki oleh operator.

“Kita harus seperti memegang ikan, tak boleh terlalu ketat karena bisa mati, tak bisa terlalu longgar malah lari.”ujarnya. Kemudian Ia pun sudah meminta Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indoenesia (ATSI) agar memberikan data soal OTT global, untuk coba memediasi.

Sebenarnya, ia pun menyadari hal ini sudah lama terjadi, lantaran dirinya merupakan mantan orang corporate. “Saya harap, Maret tahun depan tidak ada lagi masalah terkait OTT”,ucapnya.

OTT adalah konten ataupun layanan yang identik sebagai pengisi pipa data milik operator. Para pemain OTT ini dianggap sebagai bahaya laten bagi para operator, karena tanpa mengeluarkan investasi besar, tetapi mengeruk keuntungan di atas jaringan milik operator. Golongan pelaku usaha yang masuk dalam layanan OTT global diantaranya Facebook, Twitter, dan Google.

Dominasi pemain over-the-top (OTT) saat ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. Hal ini membuat operator hanya menjadi dumb pipe (pipa kosong), sebab cuma sekedar invesatasi jaringan sedangkan yang memetik buah manisnya adalah OTT.