Berbagai pertempuran paten telah memukul vendor smartphone di seluruh dunia, tak terkecuali  Xiaomi. Hari Kamis (11/12) perusahaan asal China ini mengumumkan telah menghentikan penjualan produk di India, karena sengketa paten dengan vendor Swedia, Ericsson.

 

Pengadilan Tinggi di New Delhi, India, memerintahkan Xiaomi untuk menghentikan penjualan produk, pemasaran produk, pembuatan produk, serta impor produk ke India, akibat aduan dari Ericsson yang menganggap Xiaomi telah melanggar Standard Essential Patents (SEP) dari Ericsson. Belum jelas bagian mana dari SEP tersebut yang dilanggar oleh Xiaomi, dan produk-produk apa saja yang melanggar SEP tersebut.

Dalam kasus tersebut, Ericsson mengatakan telah menghabiskan lebih dari tiga tahun mengeluh kepada Xiaomi tentang pelanggaran paten yang dituduhkan, yang berhubungan dengan teknologi telekomunikasi yang digunakan dalam ponsel perusahaan.

“Ericsson, sebagai upaya terakhir, harus mengambil tindakan hukum,” kata perusahaan dalam sebuah email yang menyatakan bahwa Xiaomi telah menolak untuk membayar biaya lisensi yang adil untuk teknologi.

Menanggapi hal ini, Xiaomi mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Ericsson untuk menyelesaikan masalah ini. Xiaomi memang telah menikmati lonjakan yang luar biasa, menjadi top pembuat smartphone China tahun ini. Namun, perusahaan yang didirikan pada tahun 2010 ini tidak memiliki portofolio paten yang luas.

“Ada kemungkinan tuntutan hukum akan diajukan di negara-negara lain, dan bukan hanya dari Ericsson, namun vendor lain yang ingin menggunakan paten sebagai senjata melawan Xiaomi,” kata Wang Jingwen, analis perusahaan riset Canalys.

Xiaomi, yang masih menjual sebagian besar ponsel di China, kemudian melebarkan fokus pasarnya di India yang menjadi fokus upaya internasionalnya. Perusahaan ini masih memiliki pangsa pasar yang kecil di India, namun telah menimbulkan masalah di sana.

Ini hanya bisa berakhir jika membayar Xiaomi Ericsson dan perusahaan lain untuk akses ke hak paten mereka, tapi itu bisa berarti membayar harga yang lumayan.

“Jika Xiaomi bersedia untuk membayar biaya lisensi untuk Ericsson, masalah bisa diselesaikan,” kata Xiaohan Tay, seorang analis perusahaan riset IDC.

“Tapi ini akan menimbulkan biaya yang lebih tinggi untuk smartphone Xiaomi, dan mereka mungkin tidak dapat menawarkan ponsel dengan harga murah ke konsumen lagi,” tambahnya.

 

Foto: ibnlive.in.com