Teknopreneur.com – Menurut International Energy Agency (IEA) investasi  energi bersih diperkirakan akan sampai  US$1.61 triliun sampai 2020 walaupun ekspansinya diperkirakan cukup lambat. Dilansir dari Renewable Energy World (Senin, 28/8) energi terbarukan akan mencapai sekitar 26% dari 22% saat ini. Ekspansi akan melambat sampai 5 tahun kedepan kecuali anggota parlemen memberikan suatu kondisi yang jelas dan memungkinkan untuk investasi.

Pendanaan untuk pembangkit listrik dari angin, radiasi matahari, dan biomassa rata-rata akan berjumlah $230 miliar di tahun 2013 sebagaimana biaya teknologi naik dan turun pada fasenya. Ketidakejelasan kebijakan tetap menjadi tantangan utama untuk penyebaran energi terbarukan. Perubahan tidak terduga untuk skema insentif merupakan resiko bahwa investor tidak bisa mengelola, dan dapat menyebabkan terjadi peningkatan pada biaya pendanaan dan pola pengembangan boom-and-bust.

Seperti kendala di Cina, emitor terbesar pada gas rumah kaca dan juga pasar energi surya terbesar, termasuk kurangnya biaya pengeluaran untuk jaringan listrik dan ketersediaan pembiayaan. Investor pada Uni Eropa menghadapi ketidakjelasan atas pembaharuan  kebijakan post 2020 dan pemasangan jaringan di Eropa untuk mempermudah integrasi tanaman energy bersih.

Pertumbuhan yang lambat berarti ada ketidakcukupan kapasitas terbarukan yang cukup untuk memenuhi tujuan perlindungan iklim secara global. Menurut Maria van der Hoven selaku eksekutif produser IEA mengatakan Politisi khawatir akan pembiayaan pengadaan energi terbarukan harus dipikir ulang kembali.

Pembaruan merupakan bagian penting dari keamanan energi. Banyak energi terbarukan tidak perlu lagi tingkat insentif yang tinggi. Energy terbarukan memerlukan konteks pasar yang memastikan pengembalian investasi yang beralasan dan mudah ditebak bagi investor.

 

 

Penulis: Aswin