Persaingan Sehat Industri Animasi, Masih Adakah?

128

Icon Animasi? Jepang punya Doraemon, Korea memiliki Pororo, Malaysia memiliki Upin Ipin. Lantas Indonesia?  Indonesia memang belum memiliki icon di industri animasi, tetapi ada perbedaan ketika penonton memperhatikan siaran televisi beberapa tahun belakangan ini. Apa itu? Stasiun televisi mulai menyiarkan beberapa tayangan animasi lokal sebagai alternatif tontonan masyarakat indonesia. Ada Keluarga Somat, Adit Sopo Jarwo, dan Didi Tikus.

Namun, ada fenomena lain yang perlu diperhatikan dari munculnya beberapa film karya lokal di stasiun televisi. Ya, beberapa stasiun televisi maupun sebuah entartaiment group, memiliki studio animasi sendiri untuk memproduksi film animasi. Lihat saja Trans7, MNC Animation, MD Animation dan Emtek Group.

Fenomena hadirnya in-house milik televisi maupun group yang menaungi televisi tak disangkal oleh Donny Sugeng Riyadi, Production Assistant DreamtoOn Animation Studio yang merupakan bagian dari Emtek Group yang menaungi  SCTV, Indosiar, dan O Channel.

Ia mengatakan pola industri animasi yang terbentuk di Indonesia memang seperti itu.

“Masalahnya pemerintah tidak ikut support,” ungkapnya.

Kalau harus memilih, Donny pun tak ingin kondisi seperti ini terjadi, ia menceritakan bahwa impian dari Direktur Utama DreamtoOn, Eko Nugroho juga ingin memajukan industri animasi dengan banyak pemain yang terlibat di dalamnya. Tapi apa daya, untuk mewujudkannya bukan hal yang mudah. Tak salah bukan jika timbul pemikiran, industri animasi kini dikuasi oleh orang-orang yang memiliki banyak uang.

Sesama penggelut di industri animasi, Donny mengerti betul ini akan menimbulkan kesulitan bagi industri animasi independen. Ia bahkan lebih senang jika pemerintah bisa turut serta membangun industri ini.

Di bawah Emtek Group sendiri sistem yang terbentuk mengharuskan film animasi yang bisa siar di stasiun televisi Indosiar harus berasal dari DreamtoOn, karya animasi dari pihak luar tak bisa masuk ke stasiun televisi ini kecuali jika mereka bekerjasama dengan pihak DreamtoOn.

“Mereka harus bekerjasama dengan kita, entah kerjasama pembuatan atau hal lainnya. Intinya jalannya harus melalui DreamtoOn,” terang Donny.

Ia justru merasa aneh ketika MNC yang juga memiliki animation studionya sendiri masih menayangkan film animasi dari MD Animation. Menurutnya ini semacam perebutan kue di lahan yang sama. Memang ia mengakui setiap stasiun televisi memiliki kebijakan masing-masing.

Kerjasama semacam itu dibenarkan oleh Dana Riza, Managing Director MD Animation dan Eki N.F  HeadofCreativeMD Animation. MD Animation memang lahir dibawah naungan MD Corp dengan karya mereka Adit Sopo Jarwo yang ditayangkan di MNC TV. Bagi mereka, hadirnya MD Animation bisa menjadi  trigger bagi studio animasi independen.  Justru mereka memberikan peluang untuk berkolaborasi dengan studio animasi lain. Karena menurut Dana, keeksisan sebuah studio animasi, siapun pemiliknya tetap dipengaruhi oleh selera konsumen.

Apapun alasanya, bagi Rina Novita, Executive Director DNA Creative Production,  fenomena ini tetap saja salah. Menurutnya  bahkan secara undang-undang ini termasuk monopoli. Dalam sebuah industri yang sehat seharusnya ekosistem yang terbentuk ada produsen, distributor/pemasar dan konsumen, yang masing-masingnya harusnya tahu perannya ada dimana.

“Ini akan mematikan pasar.”

Melihat kondisi industri yang sudah mengarah ke monopoli, Rina berujar jika sebuah studio animasi ingin masuk ke pasar animasi maka harus membuat karya yang benar-benar bagus, yang tak bisa dibuat oleh studio animasi lain.

Sementara bagi Alfi Zachkyelle, Co-Founder Kampoong Monster Studio yang pernah memproduksi  film animasi Vatalla Sang Pelindung (AZNF Pictures) dan sempat ditayangkan di Trans7 tahun 2010, bukan pasar sebenarnya yang ia takutkan, karena meski dengan hadirnya in house dari televisi maupun group mereka masih tetap bisa menghasilkan karya. Yang paling ditakutkan adalah ketika nantinya perusahaan tersebut justru mengakuisisi stratup-starup yang muncul. Dan akhirnya membuat mereka terpaku dengan atruran bisnis yang ada, padahal menurut Alfi mungkin mereka memiliki gagasan yang lebih bagus lagi dalam menghasilkan sebuah film animasi.

 

Televisi “Gambling” Ketika Membeli Film Animasi

Ada istilah gambling ketika stasiun televisi akhirnya membeli film animasi dari studio animasi independen. Karena televisi bertaruh apakah film yang mereka beli bisa mengangkat rating share atau tidak? Ada yang menonton tidak? Ada yang mau mengiklan di jam tersebut atau tidak? Berbeda dengan FTV, yang bisa ditonton oleh remaja, dewasa, maupun orang tua. Padahal untuk membuat sebuah film animasi dengan durasi 7 menit saja dibutuhkan dana sekitar  42 juta. Dengan alasan ini, wajarkah jika stasiun televisi, atau sebuah group membuat in-house sendiri?

“Stasiun televisi tidak mungkin bisa merangkul studio animasi independen karena mereka juga memikirkan bisnis,” ungkap Donny.

Di DreamtoOn sendiri Donny menceritakan meskipun mereka anak usaha dari Emtek Group tak lantas membuat mereka di anak emaskan. Ketika share rating turun, maka DreamtoOn akan mendapat warning, dan bisa saja kontrak tayang yang tadinya 52 episode dipotong  atau mau tak mau programnya dihentikan.

Sementara stasiun televisi berpikir potensi bisnis, sebenarnya studio animasi independen ditantang untuk menghadirkan karya film animasi yang tak hanya diputar sampai belasan episode tapi jauh lebih banyak dari itu.

Donny mengakui karya yang dihasilkan oleh studio animasi independen sangat bagus, tapi ketika ditanya berapa lama proses pembuatannya, ternyata untuk membuat satu episode saja bisa menghabiskan waktu 3-4 bulan.

“Kalau semacam ini, masuk industri gawat.”

Rina membenarkan, ketika suatu film akan ditayangkan di stasiun televisi, sebuah studio animasi harus berpikir jauh ke depan. Tentang dana pembuatan, ketika biaya kurang mencari tambahan ke mana, segmennya siapa, pemasaran, berapa episode yang akan dibuat, bahkan sampai peluang merchandise. Dan asal tahu saja menurut Rina modal tersebut belum tentu kembali dan untung.

Terus terang Rina juga mengatakan terkadang anak-anak animasi cepat puas dengan hasil karyanya, sementara sistem industri harus sustainable. Rina menyarankan agar studio animasi harus  berkonsultasi dengan yorang-orang yang ahli manajemen.

“Kadang-kadang film yang mereka buat tidak open. Padahal seperti  Upin Ipin saja membutukan waktu dua bulan untuk bisa diterima oleh masyarakat,” tambah Rina.

Dalam hal kemampuan memenuhi kuota yang diharapkan televisi Donny meyakini bahwa studio animasi independen sebenarnya mampu, hanya saja belum menemukan trik-nya. Di DreamtoOn untuk memenuhi kuota yang diinginkan Indosiar tim yang di Jakarta memegang tanggung jawab lebih. Satu epidode Keluarga Somat, ditangani oleh satu orang.

Diakui Donny sebenarnya treatment ini salah, seharusnya satu episode ditangani oleh 3-4 orang animator, namun dengan keterbatasan jumlah animator (70-80 orang) dan permintaan 8 episode baru setiap bulan mengahruskan mereka malakukan cara ini.

 

Menanti Peran Pemerintah

Bagimana lagi, nyatanya memang kita membutuhkan peran pemerintah juga demi memajukan industri animasi nasional. Selama ini sepertinya pemerintah belum terlalu menganggap penting adanya industri animasi.

Sebenarnya menurut Rina, permasalahan ini sama halnya dengan permasalahan minyak yang selalu impor dari luar negeri, kenapa kita tidak bisa memproduksi sendiri.

Rina mungkin benar, meskipun harga film animasi luar jauh lebih murah dengan bianya hanya berkisar 10 juta dibandingkan produksi sendiri dengan biaya ratusan juta untuk satu episode saja 7-11 menit, tapi akhirnya akan menjadi modal bagi Indonesia bisa bersaing di kacah internasional.

Asal tahu saja, menurut  Indra Utoyo ketua Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi & Komunikasi Indonesia (MIKTI)  industri animasi hanya mendapatkan bagian kue tertipis dalam sektor kreatif berbasis TIK.

Ia melanjutkan, Indonesia saat ini baru mencicipi sekitar 0,9% dari pasar animasi dunia. Sementara Korea Selatan menghasilkan penerimaan di sektor animasi mencapai US$418,6 juta, dimana US$ 89,6 juta diantaranya merupakan hasil ekspor. Di tahun 2016 mendatang,  nilai industri animasi diperkirakan mencapai US$242 miliar, dan diharapkan Indonesia bisa mencicipi sekitar 1% nya.

Dan untuk mendukung impian itu, keterlibatan pemerintah amat dibutuhkan. Jika memang pemerintah serius, ingin membangun industri kreatif Indonesia. Menurut Rina hal pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah menetapkan persentase kuota film luar yang bisa ditayangkan di Indonesia. Ini bisa dicontoh dari Negara Korea yang hanya memberikan kuota 30% untuk animasi luar atau Jepang yang 10% saja belum tentu film animasi luar bisa masuk ke Jepang.

Yang kedua dengan bantuan dana hibah untuk cost produksi. Seperti yang dilakukan Malaysia, juga dibantu dengan Multimedia Development Corporation (MdeC)  yang serius sekali ingin memajukan industri animasi mereka.

“Kalau hanya training-training, terima kasih. Tidak akan memberikan efek apa-apa,” ungkap Rina.

Solusi lain dikatakan Donny, pemerintah bisa memberikan peluang kepada studio animasi independen dengan memberikan slot di stasiun televisi. Seperti yang dilakukan oleh Malaysia dengan mewajibkan slot untuk animasi lokal dengan begitu studio-studio animasi bisa tarpacu untuk mengisi slot tersebut.

Donny berpendapat ketimbang memberkan bantuan dana produksi cara ini lebih efektif.

“Kalo kasih support dana susah karena banyak dana yang harus dikeluarkan,” ungkapnya.

Atau tawaran solusi lain dari Alfi bahwa pemerintah bisa saja memberikan peluang kepada studio animasi independen untuk menayangkan film mereka di channel milik pemerintah seperti TVRI yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tak hanya pelaku animasi saja sebenarnya yang berharap adanya kemajuan di industri ini, masyarakat juga berharap ke depan dengan kabar Badan Kreatif yang segera terbentuk, semoga industri animasi mampu mengejar ketertinggalan. Sehingga mereka tak hanya sekedar bisa memperkenalkan karya mereka melalui youtube atau malah hanya menjadi penjahit di industri animasi luar. Mereka juga harus mampu menghasilkan karya yang bisa menjadi icon Indonesia di kancah internasional.

 

Foto: adhicipta.com