Indonesia Masih Punya Harapan di Industri Animasi Kan?

103

Teknopreneur.com- Berdasarkan data dari Boxoffice mojo serta laporan Hollywood, studio animasi Amerika memang mendominasi pasar animasi dunia. Pendapatan animasi tertinggi masih dipegang oleh studio animasi  tertua di Amerika yaitu Walt Disney.

Studio ini, telah melahirkan berbagai judul film animasi seperti Mickey Mouse hingga Frozen yang telah menjadi film animasi yang terfavorit di dunia. Dengan pendapatan US$ 1,2 miliar.

Selain itu, ada pula Paramount Studio, meskipun share-nya tidak sebesar Disney tapi pendapatannya lumayan besar. Untuk satu film animasi buatannya dapat menghasilkan  rata-rata US$98,8 miliar.

Selain itu ada pula, Universal Pictures (US$88,7 miliar/film), Warner Bros (US$73,1 miliar/film), 20th Century Fox (US$72,6 miliar), SONY Pictures (US$72,3 miliar/film), dan Lionsgate (US$51,2 miliar/film).

Melihat fenomena ini, karya anak bangsa memang tak bisa dibandingkan dengan karya Disney dalam hal penjualan, yang bahkan mampu mebuat 2 film animasi dalam setahun. Tapi soal kreativitas tak diragukan lagi bahwa Indonesia juaranya, lihat saja “Battle of Surabaya” yang merupakan film garapan studio animasi milik STMIK Amikom. Yang mampu meraih penghargaan di ajang International Movie Trailer Festival (IMTF) 2013 untuk kategori People’s Choice Award.

Trailer film ini berhasil menyisihkan ratusan trailer film dari 20 negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Prancis, dan Australia. Film ini dipilih 6.580 penggemar anime, dan unggul 1.869 suara dari saingan terdekatnya “The Two Pamelas” yang diproduksi AS.

Atau trailer Bajaj Transformer yang juga dikenal dengan judul “Pada Suatu Ketika” yang dibuat oleh LaKON animasi yang ternyata  bukanlah Studio Produksi Animasi, melainkan lembaga/studi pelatihan animasi. Ketika kalian melihat trilernya maka kalian akan berpikir bahwa anmiasi Indonesia memiliki harapan di kancah dunia.

Bagimana tidak, visualisasi yang ditampilkan dalam trailler itu benar-benar hidup dan amat halus. Dengan detail-detail yang menampilkan  pemandangan khas Indonesia. Mulai dari mangkuk cap ayam yang digunakan untuk menyajikan mi instan rebus, bungkus rokok kretek tanpa filter, hingga kendaraan bajaj, motor usang, dan bus kota dengan stiker Doa Ibu yang berubah menjadi robot. Soundtrack-nya pun lagu “Perdamaian” yang dibawakan grup kasidah Nasyida Ria sebagai pembuka.

Melihat karya ini, yakin Indonesia punya harapan di industri animasi kan?