Lagi, kita harus berkaca pada negara Asia lainnya dalam hal iptek nasional. Seperti yang telah diungkapkan oleh Iskandar Zulkarnain, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bahwa kondisi iptek nasional lima tahun terakhir berjalan stagnan. Indikasi ini ternyata tak hanya terlihat dari angka rasio belanja litbang yang hanya 0,09% terhadap PDB atau masalah rendahnya rasio peneliti, juga kecilnya belanja rata-rata litbang per peneliti.

Trina Fizzanty, Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) LIPI, mengatakan indikasi lainnya juga terlihat berdasarkan data ekspor industri manufaktur Indonesia. Kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor hanya 55,5% di tahun 2012, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yaitu 63,2%. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan negara lain yang memiliki kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspornya yang mencapai angka di atas 80% seperti Malaysia (81,18%), Singapura (89,76%), Korea (96,74%), dan China (96,17%).

Khusus manufaktur dengan intensitas teknologi tinggi dan menengah seperti industri farmasi, kendaraan bermotor, elektronik dan lain-lain dii Indonesia hanya memiliki kontribusi sebesar 28,92% terhadap total ekspor dibandingkan dengan Malaysia yang telah memiliki kontribusi sebesar 59,11%, Singapura 68,99%, China 58,96%, dan Korea 71,85%.

Apa yang salah dengan kondisi iptek nasional sebenarnya? Yang jelas Muhammad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Manristek Dikti) ke depan akan mengupayakan peningkatan dana riset dari 0,09% menjadi 0,5% dari PDB di periode 2015-2016 yang akan bersumber dari pemerintah dan swasta. Juga menyususn kebijakan, program dan kegiatan terpadu di lingkungan kementerian dan perguruan tinggi agar masalah rendahnya rasio belanja litbang dan rasio peneliti dapat meningkat diiringi kontribusi ekspor manufaktur yang ikut naik pula.