Bandung merupakan salah satu kota yang digadang-gadang menjadi  salah satu smart council sebagai  contoh bagi kawasan lainnya. Salah satu program yang sedang di jalanankan di kota ini adalah program kesehatan yaitu e-Health.

Untuk memulai program ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ahyani Raksanegara  mengatakan pihaknya telah menerapkan  program penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) di enam titik di wilayahnya yaitu UPT. Yankesmob, 3 Puskemas dan 2 RSUD Kota Bandung.

Oktober tahun 2013 lalu, pihaknya telah bekerja sama dengan PT Telkom untuk mengembangakan teknologi informasi bidang kesehatan di kota Bandung. Kemudian baru memperkenalkanya pada masyarakat di bulan Februari 2014 lalu.

Ahyani mengatakan dengan program itu ia akan berusaha menaikan mutu kesehatan di kota Bandung.

Bahkan ke depan, program ini akan dijadikan embrio SPGDT di wilayah lainnya, tak hanya sekedar di kota Bandung saja.

Namun sayangnya program yang sudah berjalan 6 bulan ini belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

“Kami baru di fasilitasi oleh Telkom di enam titik selama enam bulan,” ucap Ahyani.

Ia mengakui program yang masih dijalankan di enam titik ini memang belum dapat menyelesaikan masalah. Namun menurutnya program ini sudah memberikan banyak manfaat bagi petugas dan masyarakat.

“Manfaat SPGDT sangat terasa antar petugas kesehatan ketika saling berkordinasi. Misalnya dalam mengirimkan informasi antara rumah sakit atau puskesmas yang sudah tergabung ke dalamnya. Sebelum pasien datang, pihak rumah sakit sudah bisa menyiapkan ruangannya terlebih dahulu,” terang Ahyani.

Manfaat kedua disebutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung ini adalah meningkatkan peluang keselamatan masyarakat karena mereka lebih cepat sampai ke rumah sakit, dan ditangani lebih cepat.

“Jadi meminimalisir kesalahan rujukan ke Rumah Sakit  yang ternyata tidak bisa ditangani di rumah sakit tersebut. Kan buang-buang waktu,” tambah nya.

Untuk jumlah persentase pasien yang terbantu dengan adanya layanan ini, Ahyani belum bisa memastikan karena baru dilaksanakan enam bulan dan secara parsial.  Antara rumah sakit dan puskesmas pun belum terkoneksi. Tahap program ini masih sebatas telpon, dengam sistem setengah manual.

“Tapi terlihat dari animo masyarakat, mereka banyak yang bertanya klinik mana yang buka 24 jam,  ICU yang kosong,” ungkap Ahyani.

Saat ini ia menjelaskan ada 32 rumah sakit, dengan 73 puskesmas, dan lebih dari 30 ambulans yang belum saling terintegrasi satu sama lainnya.

Ke depan ia berencana menambah jumlah titik SPGDT dan membuatnya saling terkoneksi satu sama lain serta mengintegrasikannya dengan pihak polisi dan PMI.