Teknopreneur.com – Menurut EMC Global Data Protection Index, yang dilakukan oleh Vanson Bourne untuk mensurvei terhadap 3.300 pembuat keputusan TI dari perusahaan kelas menengah hingga perusahaan besar di 24 negara, termasuk 124 responden dari Indonesia. Survei dalam 12 bulan terakhir menunjukkan, perusahaan di Indonesia mengalami kerugian akibat kehilangan data dan downtime hingga US$16 miliar atau sekitar Rp160 triliun per tahun.

Yang menjadi pertanyaan, perusahaan apa yang paling sering mengalami kerugian akibat kehilangan data dan downtime? Menanggapi hal itu, Country Manager EMC, Adi Rusli,“Tidak ada patokan perusahaan apa yang paling sering kehilangan data ataupun downtime, semua perusahaan sangat mungkin mengalami hal tersebut.”

Ia pun menuturkan, perusahaan dengan vendor lebih dari satu lebih berisiko kehilangan data 4,72 kali ketimbang yang hanya menggunakan satu vendor saja. “30% perusahaan di Indonesia masih kurang perencanaan dalam hal pemulihan data atau recovery, dan baru 16% perusahaan yang sudah merencanakan untuk big data, hybrid cloud, dan mobile,”katanya.

Lebih lanjut ia menambahkan, hanya 7% perusahaan di Indonesia yang merupakan Leader atau sudah sangat peduli dalam hal proteksi data. “Sedangkan 11% perusahaan adopters yang baru mulai berencana untuk recovery data dan 82% perusahaan masih tradisional,”ujarnya.