Teknopreneur.com – Ironis ketika kebutuhan listrik di negeri yang memiliki potensi energi terbarukan masih minim eksplorasi. Padahal konsumsi listrik akan terus meningkat. Misalnya saja, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kebutuhan listriknya mencapai 238 MW. Sementara masalahnya konsumsi listrik saat beban puncak (pukul 18.00-22.00) mencapai 260 MW, sehingga terjadi defisit daya sebesar 22 MW.

Melihat hal itu, rasanya daerah NTB bukanlah termasuk provinsi yang “miskin” energi. Lihatlah potensi energi terbarukan di wilayah itu seperti panas bumi, energi air, surya, angin, biomassa dan biogas diperkirakan mencapai 274,2 Mega Watt.

Di Sembalun, misalnya. Potensi energi panas bumi di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur diperkirakan memiliki kapasitas 70 MW, di Maronge, Kabupaten Sumbawa berkapasitas enam Mwe dan Hu’u Kabupaten Dompu berkapasitas 69 MWe sehingga total potensi mencapai 145 MWe.

Potensi itu, bukan sekadar isapan jempol semata. Hal ini sudah dalam tahap penyelidikan rinci terhadap potensi panas bumi Sembalun dan Hu’u, sudah pernah dilakukan Direktorat Jenderal Mineral Pabum dan Badan Geologi serta Direktorat ESDM bekerja sama dengan PT PLN.

Tidak hanya panas bumi yang potensial dikembangkan. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pun potensial. Di Kabupaten Lombok Utara menyebar di 10 lokasi, Lombok Barat 15 lokasi, Lombok Tengah 17 lokasi, Lombok Timur 16 lokasi, Sumbawa 17 lokasi, Sumbawa Barat sembilan lokasi, Dompu sembilan lokasi dan Bima lima lokasi.

Bahkan untuk potensi energi air yang besar pun ada. Di wilayah NTB masing-masing tiga lokasi di Pulau Lombok dan tiga lokasi lainnya di Pulau Sumbawa. Di Pulau Lombok yakni Sungai Muntur berkapasitas 2,8 MW dan Kokok Putih 4,2 MW serta Sungai Pekatan berkapasitas 5,3 MW. Di Pulau Sumbawa yakni Sungai Brang Rhee berkapasitas 16 MW, Sungai Bintang Bano berkapasitas 40 MW dan Sungai Brang Beh berkapasitas 103,5 MW. Melihat potensi itu, akankah NTB terus mengandalkan PLTU yang molor penyelesaiannya?