Teknopreneur.com- Guinness memang bukan pakar di bidang musik. Namun sejak bertahun-tahun lalu Herman Sulina, Marketing Director Guinness Indonesia menjelaskan bahwa perusahaan minuman ini sudah turut serta memberikan dukungannya dalam kemajuan musik. Terutama di Irlandia kota dimana Guinness dilahirkan, dengan banyak musisi terkenal yang telah lahir di sana seperti The Script dan U2.

“Guinness memang sangat dekat dengan musik,” ungkap Herman.

Melihat pentingnya musik bagi Guinness, tak heran jika tahun ini akhirnya Guinness Amplify hadir di Indonesia. Tak ingin puas hanya mencetak band baru saja dari ajang ini, Herman mengaku ada sesuatu yang harus dipikirkan setelah ajang ini berakhir tanggal 3 Desember lalu. Salah satunya yaitu mencari solusi pada tingginya tingkat pembajakan musik di Indonesia.

Ya, seperti yang dilaporkan BBC bahwa Aliansi Kekayaan Internasional (IIPA) awal tahun 2014 ini memperkirakan keping VCD dan DVD bajakan di pasar retail telah meraup 90% pasar musik, film, piranti lunak, dan video game. dan karena tingginya angka pembajakan di Indonesia membuat IIPA menempatkan Indonesia dalam daftar pengawasan prioritas bersama negara-negara Asia lain seperti Cina, India, dan Thailand.

Berkaca pada permasalah ini, tim Guinness Amplify Indonesia memutuskan untuk bekerjasama dengan Zimbalam, sebuah layanan distribusi musik digital. Melalui kerjasama ini 29 kontestan band yang telah masuk 30 besar, minus sang juara (Go! Go! Jill) dapat memasarkan single karya mereka lewat iTunes, AmazonMP3, Play.com, Rhapsody, eMusic, baik di pasar lokal maupun internasional.

“Kita akan bantu mengangkat karya mereka ke pasar digital,” tambah Herman.

 

Foto: innovation-village.com