Teknopreneur.com – Kebijakan bauran energi ini, nampaknya kian menjadi fokus utama, salah satunya penggunaan biofuel. Pada 2025, pemerintah memproyeksikan bahwa bioefuel berkontribusi terhadap lima persen melalui B30 dan program E20. Namun saat ini, konsumsi biofuel masih di bawah harapan. Mengapa? Menurut Direktur Pemasaran dan Perdagangan PT Pertamina (Persero), Ahmad Bambang, banyak pelanggan menolak untuk menggunakan biofuel dikarenakan garansi batal, potensi perawatan lebih ekstra serta faktor ketersediaan produk dan lain sebagainya.

Dirinya pun melanjutkan, di masa depan kelak, bahan baku biofuel non-makanan akan memiliki daya saing dan lebih direkomendasikan pada masa depan. “Biofuel yang berbahan baku alga adalah masa depan paling menjanjikan. Alga tidak memiliki daya saing sebagai bahan pangan,” ujarnya dalam buku Pertamina Energy Outlook 2015.
Meski begitu, pengembangan biofuel berbasis alga tidak mudah begitu saja. Dibutuhkan banyak dukungan oleh berbagai pihak. “Pengembangan biofuel memerlukan dukungan dari berbagai pihak, yakni dari berbagai pemangku kepentingan utama, seperti pemerintah, penelitian dan pengembangan institusi, dan swasta,” katanya.