Teknopreneur.com-Gibran baru beberapa hari yang lalu pulang dari Eropa, mencicipi hadiah hasil jerih payahnya mengikuti kompetisi Get In The Ring. Dan bulan Februari tahun depan ia akan kembali ke Eropa tepatnya ke Jenewa, Swiss untuk sekali lagi mewakili Indonesia dalam ajang final Seed Star World  

Gibran Chudzaefah Amsi El Farizy demikian nama lengkapnya, sepertinya beruntung sejak memiliki invensi eFishery, empat kali mengikuti lomba, empat kali mendapatkan juara. Tak tanggung-tanggung selalu menjadi juara pertama. Mulai dari Mandiri Young Technopreneur, INAICTA, Get In The Ring dan Seed Star Indonesia.

Venture kapital yang di dapat pun lumayan besar, dari MYT di tahun 2012 sebesar Rp1,5 miliar, kemudian €1 Juta dari Get In the Ring, dan tahun depan dalam SSW ia akan berlaga lagi untuk merebutkan hadiah utama berupa dana pengembangan yang mencapai sebesar US$500.000 atau setara dengan hampir mencapai Rp6 miliar.

“Jika ditanya senang, sudah pasti senang karena siapa sangka jika selalu menang,”kata Gibran.

Efishery.Oleh Gibran, alat ini dibuat sebagai pemberi pakan ikan dan udang secara otomatis.  eFishery  bisa memberi pakan dengan dosis yang selalu tepat. Sehingga bisa mencegah kelebihan saat memberi  pakan. Tentunya ini bisa meminimalisir pengeluaran ekstra untuk membeli pakan ikan.

Selain itu  eFishery  diharapkan agar bisa juga membantu untuk mengindustrikan dan memanejemenkan usaha perikanan dari tahap perencanaan, eksekusi, kontroling terhadap manipulasi atau pencurian ikan hingga corretive action yakni pemberian makan ikan sesuai dengan iklim yang sering tidak menentu.

Tapi sayang, eFishery dianggap belum sesuai harapan. “Inovator eFshery hanya memanfaatkan peluang dari fenomena merebaknya berbagai lomba inovasi, baik oleh pemerintah, dana bantuan riset, dan CSR perusahaan, yang seringkali tidak dikelola secara bisnis dengan serius,”jelas Kristianto Santosa  mentor eFishery dalam kompetisi Mandiri Young Technopreneur.

Secara fundamental Kris sangat menyukai gagasan  invensi e-fishery karena bisa membantu para pengusaha perikanan untuk melakukan otomasi pada sektor pertanian yang biasanya dilakukan secara manual dan membutuhkan tenaga kerja yang banyak. “Namun bagaimanapun juga, teknologi dasar dari e-fishery adalah ‘mesin’ bukan ‘e’. Teknologi mesin ini sudah mature sehingga sebenarnya bisa dibeli jadi dari mana-mana,”papar Kepala Business Innovation Centre (BIC) ini.

Selain itu bisnis eFishery menurutnya masih pada fase “embryonic stage” . Sebuah fase introduksi awal di Indonesia dan sudah cukup umum di negara-negara yang lebih maju. Dari proses inkubasi yang dilakukan pun sejauh ini e-fishery belum bisa dikatakan laku, sekalipun minat untuk menggunakan cukup bagus. Produk sejenis sebenarnya sudah banyak ditawarkan, sekalipun belum sepenuhnya mendayagunakan potensi elektronik dari perangkat tersebut.

Kris menyarankan agar efishery memiliki nilai tambah dan berbeda dengan yang ada dipasaran sebaiknya e-fishery menerapkan teknologi  nirkabel (wireless) dan internet. Pengembangan otomasi dan remote control   kini masih terbuka lebar artinya teknologi tersebut sekarang juga bisa dinikmati oleh orang biasa dan belum banyak yang menawarkan.

Karena Peneliti Tak Punya Uang

“Ada kesan bahwa para peneliti itu sudah puas jika penelitian mereka sudah terbit di jurnal ilmiah atau sudah menang dalam perlombaan padahal belum selesai,”kata Prof Rokhmin Dahuri Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), menanggapi fenomena efishery. Padahal, menurut Rokhmin masih ada tahap selanjutnya. “Apakah bisa hasil penelitiannya untuk diterima industri?” tambahnya.

Rokhmin sendiri tak mutlak menyalahkan para peneliti yang suka mengikuti lomba. Menurutnya memang agak sulit untuk mengembangkan sebuah Prototipe menjadi sebuah  produk. “Si penemu bola lampu saja awalnya hanya menemukan neutron dan proton tidak langsung bola lampu.  Begitu juga di invensi perikanan, memang tak semua peneliti bisa membuat produknya langsung sesuai diinginkan oleh pasar,” ujarnya.

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Persatuan Nasional dan Gotong Royong ini wajar jika para peneliti kini lebih sering mengikuti perlombaan. Karena memang agak sulit mendapatkan uang dari penelitian. “Jangankan dapat uang, pinjam di bank saja susah didapatkan. Jarang ada bank yang mau meminjamkan uang untuk para peneliti mereka tak percaya, jadi wajar saja jika mereka suka ikut lomba,“kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor ini. Selain itu harus ada peran juga dari pemerintah yang harus mempertemukan antara peneliti dengan industriawan. Jadi sebelum meneliti, mereka bertemu apa yang kira-kira dibutuhkan pasar.

Para inventor juga harus berpikir ke depan, sebab banyak yang membutuhkan invensi mereka. Berdasarkan catatan Rokhmin, 40% nelayan  kita berada pada garis kemiskinan. Sehingga banyak inovasi yang harus dikembangkan dari mulai budidaya, teknologi perkapalan, pelabuhan, pariwisata bahari hingga teknologi pada pertambangan dan energi yang hingga kini masih mengandalkan asing.

Rokhmin menilai potensi pemanfaatan inovasi sangatlah besar. Tapi saat ini, budidaya perikanan baru 24,35% atau sekitar 131.776 ha lahan yang dimanfaatkan sedangkan ada 541.100 ha. Begitu juga pada budidaya perikanan tambak baru 22,18% atau sekitar 657.346 ha termanfaatkan padahal ada 2.963.717 ha lahan.

“Indonesia memang kekurangan sumber daya manusia yang mumpuni, yang bisa mengusai teknologi dalam budidaya perikanan ini salah satunya teknologi pakan ikan yang saat ini dinilai mahal harganya,” tambahnya.

Serupa dengan Rokhmin, Direktur Pengembangan Bisnis IPB, Dr. Ir. Agus Oman Sudrajat, juga mengatakan hal yang sama. Para nelayan membutuhkan orang pintar yang bukan sekedar meneliti apalagi hanya mengikuti kompetisi. “Terkadang peneliti itu unik apalagi yang masih mahasiswa. Di paper prototipenya bagus sekali sehingga menarik untuk dikembangkan. Namun saat akan dikembangkan mereka justru menghilang dan sulit dicari. Ada juga peneliti yang hanya ingin meneliti saja tapi menyerah saat disuruh memasarkan produknya,”katanya.

Bukan Sekedar Awardpreneur

Menanggapi hal ini, Gibran menolak jika timnya dibilang hanya mengejar awardpreneur, karena terbukti eFishery yang awalnya hanya prototipe kini sudah dikembangkan menjadi produk. Beberapa usulan dari petani dan mentor untuk eFishery pun mulai ia sempurnakan. Buktinya eFishery sudah terjual 140 buah di pasaran dari berbagai daerah di Indonesia, Jawa Barat, Bali, Danau Toba dan lainnya. 

“eFishery yang awalnya hanya sebuah prototipe berbentuk sms kini sudah berbentuk website. Memang masih ada yang kurang seperti dashboard dan belum mobile. Tentunya tak semua permintaan petani bisa dipenuhi,” sanggah Gibran. Harus diakui, beberapa bagian masih belum memudahkan penggunanya. Seperti programnya yang rumit sulit digunakan oleh petani ikan yang gagap teknologi. Namun menurut Gibran hingga kini eFishery masih terus akan disempurnakan.

Kendati demikian, Gibran membenarkan bahwa motivasi dirinya saat mengikuti ajang kompetisi adalah mengejar venture kapital. Karena dengan mengikuti kompetisi memang lebih mudah mendapatkan venture kapital. Sedangkan untuk mentoring  bisa dicari sendiri berdasarkan kebutuhan pasar.

Sense of Mission Jangka Panjang

Tidak sepenuhnya menyalahkan eFishery. Kris menilai ini kesalahan sistem inovasi kita secara makro.  Inovator e-Fishery hanya memanfaatkan peluang dari fenomena merebaknya berbagai lomba inovasi, baik oleh pemerintah, dana bantuan riset, dan CSR perusahaan, yang seringkali tidak dikelola secara bisnis dengan serius. 

“Kalau mau dikoreksi, saya menyarankan agar para pendukung inovasi dalam bentuk pemberian price, grants, award dan sebagainya, perlu dibekali dengan sense of mission yang lebih berjangka panjang dan pemahaman dalam inovasi bisnis, lebih dari sekadar mendemokan ‘magic’ dari ilmu dan teknologi . Kebanyakan lomba adalah proyek, sedangkan inovasi adalah suatu proses penciptaan nilai yang harus dituntaskan dan dibuktikan oleh pasar.  Ini  yang cukup memprihatinkan,”keluh Kris.

Paling tidak, lomba-lomba seperti ini menurut Kris bisa dijadikan pelajaran. “Seharusnya kita berangsur belajar dari sukses dan gagalnya lomba-lomba ini. Akan terjadi seleksi alam, dimana proses lomba-lomba yang memang berbobot akan survive dan sustainable,” ungkapnya.

Tapi tidak bisa dihindarkan pasti akan selalu ada lomba-lomba yang “ad-hoc atau incognito” datang dan pergi, lalu setelah lomba selesai dilupakan orang.  Dalam hal ini pemerintah atau  donatur inovasi yang serius  bisa berperan untuk mendiskriminasikan lomba-lomba yang berbobot dan yang “hura-hura”.  Media massa dan jurnalis juga perlu mendapat pencerahan, agar dapat menyampaikan berita dan karya inovasi kita secara benar, tidak justru memberikan informasi yang menyesatkan. Sehingga para pemenang tak mabuk sanjungan tapi kembali pada tujuan.