Teknopreneur.com- Pemerintah boleh  saja meminta angkutan umum berganti dari BBM ke BBG. Tapi perlu diingat, sudah mampukah pemerintah menyiapkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG)  yang cukup bagi mereka. Masalahnya saat ini saja menurut data dinas perhubungan ada 7.927 unit kendaraan dari  busway, mikrolet, kendaraan dinas, taxi, dan bajaj.

Tidak adil bukan, jika setiap angkutan umum untuk mencapai  SPBG harus menghabiskan waktu 3-4 jam hanya untuk mengisi BBG. Waktu hilang, jatah mengangkut penumpang juga berkurang. Sementara dari jumlah total angkutan di atas satu harinya membutuhkan 308.320 Isp gas.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebenarnya sudah memprediksikan kebutuhan SPBG yang harus direalisasikan tahun ini. Hitungannya jika 1 SPBG rata-rata memiliki kapasitas 1 mmscfd, berarti diperlukan minimal 18 SPBG di Jakarta.

Saat ini baru ada 17 SPBG, itupun hanya 11 yang beroperasi. Artinya masih ada 6 unit kekurangannya. Emanuel K, Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DKI Jakarta menjelaskan untuk mengatasi masalah ini akan dibangun 5 SPBG lagi 1 dari Pertamina (Cililitan), 1 Jakpro (Ancol), 3 Ditjen Migas (Kp. Melayu, Pulo Gebang, Yos Sudarso). Jadi total SPBG sampai tahun 2014 ini 22 unit, ditambah 2 Mobile Refueling Unit (MRU) (khusus pengisisan kendaran kecil).

Sayangnya tak hanya masalah SPBG saja lantas program ini dapat berjalan, ada hal lainnya yang penting untuk diselkesaikan oleh pemerintah yaitu masalah spesifikasi kendaraan yang bisa menggunakan BBG. Sampai saat ini dinas perhubungan kota Jakarta belum mengumumkannya.

Emanuel meminta kepada semua pemain yang terlibat dalam bsinis angkutan masal ini untuk bersabar.

“Sebentar lagi akan kita umumkan,” ucap Emanuel.