Teknopreneur.com – Beberapa waktu yang lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data tentang perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP). Dalam laporannya itu, disebutkan bahwa NTP nasional November 2014 sebesar 102,37 atau turun 0,49 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP ini dinilai Indeks Harga yang Diterima Petani (lt) naik 0,81 persen lebih rendah dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 1,03 persen. Melihat hal itu, timbul sebuah pertanyaan apakah dengan teknologi pertanian saat ini mampu meningkatkan NTP?

Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Haryono mengatakan bahwa teknologi tidak serta merta mampu meningkatkan NTP secara nasional, melainkan harus ada sinergi antara program yang diusung pemerintah dengan teknologi yang tepat guna. Menurutnya, sinergi inilah yang mampu mendongkrak NTP secara nasional. “Harus didukung juga dengan kebijakan pemerintah melalui insentif yang diberikan,” ujarnya saat dihubungi teknopreneur.com.

Meski begitu, kata dia, teknologi juga memiliki peran penting terhadap perkembangan pertanian negeri. “Teknologi juga penting. Namun, hal-hal yang krusial terlebih dahulu yang harusnya dilakukan, misalnya saja infrastruktur jalan petani, irigasi atau pengairan, dan insentif. Jika sudah dijalankan, maka sinergi dengan teknologi pertanian akan mudah. Utamanya itu infrastrukutur,” katanya.

Dirinya pun yakin jika hal itu telah terjadi, NTP nasional akan terus mengalami pertumbuhan secara bertahap. “Kemungkinan akan bisa tumbuh 5 persen, kemudian 6 persen, dan seterusnya. Ini yang kami harapkan juga,” ucap dia.

Sekadar informasi, jika NTP lebih dari 100, maka tingkat kesejahteraan petani jauh lebih baik atau ada nilai tambah. Sedangkan jika NTP berada di posisi 100, artinya tingkat kesejahteraan petani tidak mengalami perubahan (tak ada selisih hasil penjualan-biaya produksi). Sementara jika kurang dari 100, sudah bisa diprediksikan nasib petani turun drastis (biaya produksi lebih besar). Bila melihat tahun 1970-an antara kesejahteraan petani dengan kesejahteraan tenaga kerja industri pangan tidak begitu jauh berbeda. Namun kini, keadaan justru terbalik.