Teknopreneur.com – Saat harga BBM naik selain pemerintah yang paling ditanya apa solusi selanjutnya adalah Pertamina. Sebagai BUMN pemasok bahan bakar minyak, pertamina cukup sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat.  Sebagai Direktur Pertamina, Ahmad Bambang, tentu tidak setuju jika impor adalah solusinya.

Meski hingga kini, kapasitas kilang terhadap demand rata-rata impor sudah mencapai 55%. Menurut ini agak sulit untuk menutupi kebutuhan masyarakat jika hanya mengandalkan suplai BBM yang Indonesia punya sendiri. Kebijakan pun akhirnya dibuat dengan menggantinya dengan energi mix campuran, yakni kebutuhan masyarakat dipenuhi dengan BBM dan bioenergi.

Targetnya di tahun 2025 bioenergi akan mencapai 55% namun ia pesimis itu tercapai melihat di tahun ini bioenergi minimum dari bioetanol yang seharusnya mencapai 10% saja baru mencapai 1%. Sedangkan biodiesel yang seharusnya juga 10% baru mencapai 1,4%. “Agak sulit sepertnya mencapai target 2025. Mencapai angka 10% aja belum bisa”keluhnyanya. 

Ditambah lagi infrastruktur di Indonesia jauh dari kebutuhan. Di Indonesia sendiri kebutuhan BBM paling tinggi ada di Jawa, sedangkan di Jawa sulit membangun infrastrukturnya karena terkendala oleh minimnya lahan.

Untuk mengatasi hal tersebut pertamina  membutuhkan para petani yang bisa memberikan suplai  bahan baku bioetanol  Karena Pertamina tidak bisa turun kebawah untuk menjadi pengganti petani bio. Selain itu juga membutuhkan inovator yang benar-benar bisa membuat formula khusus untuk bioenergi, Jadi spesifik apa tanaman yang harus ditanam, sehingga tidak mahal. (FJ)