Teknopreneur- Profesi peneliti terdengan hebat, namun siapa sangka jika tak seindah bayangan. Tak sedikit peneliti yang harus menelan pil pahit bahwa ternyata penelitannya tak bisa menghasilkan uang karena tak diminati oleh industri.

“Meskipun bisa menghasilkan uang, itu tak bisa sepenuhnya menjadi miliknya. Karena 40% harus diberikan kepada lembaga penelitian tempat dia mengabdi dan 20% untuk unit kerja. Sisanya 40% baru menjadi miliknya, itupun jika ia meneliti sendiri jika bersama tim maka  harus dibagi,” jelas Deputi Kepala Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi. Dr. Ir. Tatang Akhmad Taufik. Makanya tak sedikit peneliti Indonesia yang memilih berwirausaha sendiri atau pergi keluar negeri.

Sehingga sebagian besar masih memandang melakukan riset hanyalah sebuah usaha buang- buang uang yang hasilnya juga belum tentu komersil.  Kebanyakan dari mereka beralih mengadopsi teknologi dari penelitian lain. Karena bisa menghemat biaya, alhasil inovasi di Indonesia tak berkembang. Padahal inovasi merupakan paremeter dari berhasil atau tidaknya sebuah bangsa.

Kristanto Santoso, Direktur Utama Business Innovation Center (BIC) negara-negara tetangga—bukan negara maju sekelas Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang—bisa semakin tinggi jika kondisinya seperti ini? Ditilik dari Indeks Inovasi Global (GII) peringkat Indonesia juga tidak terlalu membanggakan.

Laporan GII 2013 menyebutkan Indonesia menduduki peringkat 85 dari 142 negara. Tertinggal jauh dari negara tetangga Singapura yang mene- mpati posisi ke 8 dan Malaysia di peringkat 32. Thailand bahkan menempati peringkat 57 dan Brunei Darusalam di peringkat 74. Tetapi peringkat Indonesia tersebut sebenarnya sudah membaik dibandingkan tahun sebelumnya baru menempati peringkat 100 dari 141 negara