Teknopreneur.com- Dalam acara peluncuran buku saku indikator iptek 2014 (3/12) di gedung II BPPT,  Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir menyoroti masalah masih rendahnya rasio peneliti di Indonesia. Ia mengatakan rasio peneliti per 10.000 angkatan kerja di tahun 2012 adalah 7,25. Meski angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2009 sebeaar 3,60, namun angka ini masih jauh dibandingkan Malaysia 16,43 atau Singapura 64,38.

Bahkan, ia juga melihat sektor perguruan tinggi memiliki rata-rata belanja litbang per peneliti terendah dibandingkan dengan dengan sektor pemerintah dan swasta.

Nasir menjelaskan satu peneliti di perguruan tinggi hanya mendapat sekitar Rp.87.833.580/tahun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan dana pendidikan 20% dari APBN belum memprioritaskan pada kegiatan penelitian dan pengembangan.

Ke depan Nasir berjanji akan mendorong peningkatan rasio ini sehingga mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di kawasan Asean dengan menyusun kebijakan, program dan kegiatan yang terpadu di lingkungan kementerian beserta LPNK dan perguruan tinggi terkait.