Teknopreneur.com- Proyek 35.000 Mega Watt (MW) menurut Nur Pamudji, Direktur Utama PT PLN (Persero) kepada wartwan tidak semuanya dibangun oleh pemerintah. “Kira-kira 20.000 MW dari swasta, 15.000 MW pemerintah. Tapi nanti bisa berubah.” Proyek ini diperkirakan akan menelai biaya sekitar US$ 1,5 juta per MW. Itu saja baru pembangkitnya, belum jaringan transimisinya. Dengan dana sebesar itu, proyek listrik 35.000 MW ini jelas  membutuhkan banyak investasi.

Namun Menteri BUMN, Rini Soemarno, kemarin saat ditemui teknopreneur.com amat berharap proyek ini dapat dikelola dari investor lokal, namun ia tak menutup kemungkinan investor juga bisa berasal dari luar. “Sementara kita lihat pembangunnya dari PLN-nya sendiri, dan juga dari BUMN Karya ataupun PT Wijaya Karya yang bisa membantu membangun itu,” terang Rini. Berbeda dengan Rini, Kepala Divisi Humas PLN Bambang Dwiyanto lebih terang-terangan mengatakan mereka membutuhkan bantuan dari pihak swasta. “PLN mana sanggup memenuhi semuanya,” ujar Bambang, seperti dikutip harian Kontan.

Jika dilihat, nama BUMN  yang disebut oleh Rini telah beberapakali membangun proyek pembangkit listrik di Indonesia. Tahun 2013, PT Adhi Karya  membangun proyek pembangkit listrik swasta  (independent power plant/IPP) di Manado, Sulawesi Utara, dengan kapasitas 2 x 55 Mega Watt, dan di tahun 2014 membangun PLTU Lampung (2×100 MW). Sementara PT Wijaya Karya di tahun 2012 telah menyelesaikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Borang 60MW, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Rengat 21MW, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Ambon 34MW.

Proyek yang diketuai oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla ini akan dimulai tahun depan dengan masa pengerjaan akan berbeda untuk setiap jenis pembangkit listrik. Pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) misalnya bisa menghabiskan waktu 5 tahun, sedangkan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) bisa sampai 7 tahun. Ya, kita tunggu kelanjutannya siapa saja investor proyek besar ini? (FJ)