Teknopreneur.com- Rini Soemarno, Menteri BUMN terkait proyek 35.000 MW, mengatakan Kementerian BUMN akan membantu terlaksananya proyek ini, apalagi mengingat ini terkait dengan energi alternatif. “Untuk energi alternatif ini kami terus bicarakan dengan Kementerian ESDM. Bagaimana bisa mendorong pembangunan tersebut.”

Ia juga menyebutkan soal pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pembangunan proyek PLTS sendiri sebenarnya diutamakan di daerah terpencil karena berpotensi menekan biaya pokok produksi (BPP) listrik. Meski harga listrik tersebut bisa mencapai US$30 sen per kilowatt hour (kWh). Tetapi seperti yang dikatakan oleh Nur Pamudji,  Direktut Utama PT PLN (Persero) kepada wartawan bahwa harga listrik baru dari PLTS yang telah ditetapkan pemerintah akan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di pembangkit listrik yang biasanya digunakan di daerah terpecil. Menurutnya, penggunaan listrik dari PLTS akan menekan biaya pokok produksi sehingga mengurangi subsidi. 

Gambarannya jika suatu daerah yang menggunakan 100% diesel sebagai sumber listrik, biaya pokok produksinya sekitar Rp3.000 per kWh. Jika harga jual ke masyarakat Rp600 per kWh, subdisi listriknya Rp2.400 per kWh. Saat listrik PLTS menghasilkan listrik dengan harga jual US$20 sen atau sekitar Rp 2.000 per kWh ke PLN, subsidinya tinggal Rp 1.400 per kWh.  

PLN sendiri telah mengidentifikasi lokasi-lokasi yang paling cocok untuk pembangunan PLTS. Lokasi-lokasi  itu ditentukan berdasarkan konsumsi BBM dan biaya produksi di lokasi tersebut. Hal ini untuk menghindari pembelian listrik oleh PLN dari PLTS jauh lebih tinggi dari biaya pokok produksi listrik eksisting dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). 

Namun diungkapkan oleh Rini, masalah yang dihadapi sekarang adalah pembangunan PLTS bila dibandingkan dengan PLTU, membutuhkan cost yang lebih besar.

Senada dengan Rini, Dahlan Iskan, dikutip teknopreneur.com dari Tempo.co, yang saat itu sempat menjabat sebagai Menteri BUMN mengatakan jika satu PLTU memerlukan dana US$1 juta per megawatt, pembangkit tenaga surya membutuhkan US$3,5 juta per megawatt. Perbedaan yang cukup jauh bukan?

Dahlan  berpendapat PLTS memiliki keunggulan dibandingkan PLTU, yakni lebih praktis dan ramah lingkungan. Untuk Kapasitas listrik terpasang dari pembangunan PLTS tidak dapat ditentukan secara pasti. Pasalnya, pembangkit tenaga surya berupa panel-panel surya (solar cell) atau papan penyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik. Kapasitas listrik satu instalasi panel pembangkit tenaga surya bisa bervariasi, tergantung luas papan solar cell yang digunakan. Di Indonesia sendiri daerah yang memiliki kapasitas listrik terbesar adalah  Pulau Banda. (FJ)

 

Foto: energitoday.com