Teknopreneur.com- Tahun ini Indonesia digemparkan dengan virus ebola. Belum lama ini, bahkan beredar informasi tenaga kerja Indonesia asal Jawa Timur diduga terjangkit setelah pulang dari Liberia. Apa sebenarnya yang membuat virus ebola begitu ditakuti?

Menurut laporan BBC, virus ebola diduga berasal dari kelelawar buah dan pertama kali dideteksi pada 1976 dekat sungai ebola yang berada di negara Kongo.

Virus ini bisa tertular lewat darah, muntah, feses, dan cairan tubuh dari manusia pengidap ebola ke manusia lain.

Gejala awalyang ditimbulkan virus ini adalah demam mendadak, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan, diikuti dengan muntah, diare, ruam dan perdarahan -baik internal maupun eksternal- yang dapat dilihat pada gusi, mata, hidung dan di tinja. hingga akhirnya membuat pasien meninggal karena dehidrasi dan kegagalan organ.

BBC menyebutkan belum ada obat yang dinyatakan pasti bisa menyembuhkan. Pasien yang sakit parah butuh mengembalikan cairan secara cepat dengan menggunakan cairan infus. Mereka harus diisolasi dari orang lain dan diberikan perawatan intensif oleh para ahli medis.

Obat eksperimental seperti ZMapp juga telah digunakan, namun efektivitasnya belum terbukti. Produk darah dari penyintas juga sedang diamati sebagai terapi potensial.

Tenaga Surya Mampu Deteksi Lebih Cepat

Melalui artikel lainnya, baru-baru ini BBC mengabarkan bahwa tenaga surya mampu membantu sebuah portabel laboratorium memberikan hasil enam kali lebih cepat deteksi virus ebola daripada tes biasa, dan saat ini telah digunakan di Afrika Barat.

Para peneliti yang terlibat mengatakan diagnosis yang lebih cepat akan meningkatkan kemungkinan bertahan hidup dan mengurangi penularan virus ebola, ya meskipun sampai saat ini belum diketahui obat ampu yang bisa menyembuhkan penderitanya.

Percobaan ini  dilakukan di pusat perawatan Ebola di Conakry, Guinea.

Para peneliti telah mempertimbangkan bagaimana membuat tes yang cocok untuk digunakan di rumah sakit di tempat terpencil, di mana sumber daya sering kali tidak memnuhi kriteria layak. Tetapi untuk menggunakan tenaga surya ini, dibutuhkan laboratorium khusus yang dapat menjaga komponen tes pada suhu yang sangat rendah.

Proyek, yang dipimpin oleh Pasteur Institute di Dakar, Senegal, ini didanai oleh badan amal medis Wellcome Trust dan Departemen Inggris untuk Pembangunan Internasional.proyek ini menggunakan ‘mobile suitcase laboratory.’  Dengan portabel bertenaga surya yang dapat digunakan pada suhu kamar.

Dr. Val Snewin, manajer kegiatan internasional di Wellcome Trust, mengatakan dengan  tes 15 menit yang dapat mengkonfirmasi kasus Ebola akan menjadi alat utama untuk manajemen yang efektif dari wabah Ebola. Sehingga memungkinkan pasien untuk diidentifikasi, diisolasi dan dirawat sesegera mungkin.

“Ini tidak hanya memberikan pasien kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup, tetapi mencegah penularan virus ke orang lain.” tambahnya.