Teknopreneur.com – Pasien, dokter, dan rumah sakit, saat ini telah mengandalkan internet untuk kegiatan kesehatan dan menjadikannya lebih praktis. Dengan tingginya penetrasi internet, tentunya bakal memudahkan para dokter untuk berbagi informasi kesehatan terhadap pasien mereka, cukup hanya dengan perangkat mobile yang terkoneksi dengan internet.

Namun yang terjadi belakangan ini di Amerika Serikat, banyak yang mengeluhkan adanya perlakuan diskriminasi situs ataupun penyedia layanan kesehatan terhadap pasiennya, lantaran lebih mendahulukan pasien yang berduit ketimbang pasien biasa. Menanggapi hal itu, Agen Federal Amerika Serikat, FCC  baru-baru ini telah membuat kebijakan mengenai kasus ketimpangan sosial tersebut.

Hal itu, seperti yang dikutip dari Techcrunch, Sabtu (29/11). Peristiwa tersebut, telah menyedot reaksi publik dan tercatat ada 3,7 juta orang yang berkomentar, yakni meliputi ratusan investor, perusahaan teknologi, gereja dan kelompok masyarakat sipil terkemuka

Tidak tanggung-tanggung, bahkan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, memberikan dukungannya terhadap kebijakan FCC yang menerapkan aturan untuk menghentikan tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh para penyedia jasa digital healthcare di AS.

Hal itu dilakukan agar masa depan kesehatan digital di AS dan inovasi start up lebih terbuka, serta tidak terjadi yang namanya perbandingan kasta antara ‘Si kaya dan Si miskin’. Jika FCC tidak mengklasifikasikan internet service provider (ISP) sebagai “angkutan umum,” kunjungan dokter virtual yang disediakan oleh platform telemedicine bisa dibuat lebih mahal oleh ISP.

Menyoroti kasus tersebut, The American Academy of Pediatrics menyatakan,“Membangun sistem untuk memprioritaskan yang membayar, amat bertentangan terhadap etika kesehatan dan kesejahteraan para bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa.” Dengan adanya peristiwa tersebut, seharusnya dapat dijadikan bahan evaluasi, sehingga pemanfaatan perkembangan teknologi dapat dinikmati oleh semua kalangan.