Teknopreneur.com – Indonesia seolah menjadi sasaran empuk buat pasar impor negara. Kekayaan alam yang begitu berlimpah seolah tak mampu mencukupi kebutuhan negara ini. Lihat saja di tahun 2013 hampir semua bahan pokok impor, seperti  beras  volume impornya mencapai 226,4 juta kg padahal swasembada beras sudah dicanangkan sejak awal  pemerintah SBY. Dan terulang lagi terakhir di tahun ini pemerintah mengimpor hingga 175.000 ton beras.

Begitu pun dengan kedelai seolah sudah menjadi  wajib hukumnya untuk mengimpor, tahun lalu impor kedelai hingga mencapai 1miliar kilogram, padahal di Indonesia sendiri sudah solusi untuk mengatasi kelangkaan kedelai dengan menanan kedelai grobogan yang ternyata kualitasnya tak lebih buruk dari kedelai Amerika yang selama ini seakan menjadi primadona bagi pecinta tahu dan tempe di Indonesia.

Tak kalah dengan saudaranya, jagung yang masa panennya ini terhitung pendek ternyata juga diimpor, tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 822,35 juta kg. Begitu juga dengan gula, Indonesia mengimpornya dalam dua bentuk gula tebu dan gula pasir dengan jumlah 44,4 juta kg dan 75,8 juta. Padahal Indonesia pernah menjadi pengahasil gula terbesar ke dua di  di dunia.

Untuk mengatasi masalah impor terus menerus maka Dr Haryono Kepala  Badan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian mulai tahun ini mulai menyanggupi perintah dari Presiden Joko Widodo, untuk mengubah sistem pertanian menjadi masif. Sehingga tidak terus-terusan impor, menurutnya yang harus dilakukan pertama kali adalah pertanian Indonesai harus mengikuti perkembangan zaman dengan  menggunakan teknologi. Sehingga pertanian di Indonesia tidak menjadi stagnan.