Teknopreneur.com – Ekspor sawit yang kian menurun, nampaknya tidak membuat para pengusaha sawit berkecil hati. Mereka bahkan ‘berteriak’ agar pemerintah mau menerapkan mandatori tentang biofuel supaya dampak menurunnya kelapa sawit tidak berpengaruh terhadap perusahaannya. Andai saja, pemerintah mau melakukan hal itu, maka produksi kelapa sawit akan terus bertambah.

Nah, ketika produksi kelapa sawit yang terus bertambah, maka secara langsung akan dibutuhkan lahan untuk memproduksinya. Namun, seperti yang diketahui, lahan untuk kelapa sawit akan terus menipis. Diperlukan solusi untuk mengatasi masalah itu. Lalu, bagaimana caranya?

Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Crops (IBRIEC) menyarankan pelaku industri kelapa sawit Indonesia untuk menerapkan bioteknologi guna meningkatkan kualitas. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Peneliti IBRIEC Darmono Taniwiryono. Dilansir teknopreneur.com dari bisnis.com, dirinya mengatakan bahwa proses manipulasi biologi dapat menjadi cara meningkatkan produktivitas kelapa sawit secara massif, contohnya dengan memperbaiki kualitas tanah.

Meski begitu, dananya pun tak sedikit. Kira-kira dibutuhkan duit untuk riset sebesar US$1,2 juta per tahun. Nantinya, ketika hal itu bisa diterapkan, maka bioteknologi tersebut dapat mengurangi penggunaan bahan kimia sebesar 37%, meningkatkan hasil panen hingga 22% dan meningkatkan profit petani hingga 68%. Bahkan, dikatakannya, hasil panen dan profit yang akan jauh lebih tahan terhadap serangga.