Pasar Ekspor Kian Menurun, Kesempatan Genjot Produksi Biofuel untuk Negeri

119

Teknopreneur.com – Ekspor sawit memang saat ini sedang berkembang, namun kini ekspor sawit kian menyusut khususnya di Uni Eropa (UE). Apa pasal? Mengutip data Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), akibat penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) oleh Komisi Eropa (KE) pada tanggal 26 November 2013 lalu yang secara resmi mengeluarkan Council Implementing Regulation (European Union-EU) Nomor 1194/2013 tertanggal 19 November 2013 terkait pengenaan BMAD produk Biodiesel asal Indonesia dan Argentina, ekspor biodiesel Indonesia ke UE anjlok.

Menurut Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan, membandingkan, bila tahun 2012 ekspor biodiesel ke UE mencapai 1,7 juta ton, ekspor biodiesel tahun lalu hanya 400.000 ton. Bahkan tahun ini diprediksikan bisa turun lagi.

Paulus pun mengakui, hanya ada dua perusahaan yang mampu tembus ke pasar UE, yakni Wilmar dan Musim Mas. Maklum, berdasarkan informasi, di negeri ini Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan yang beroperasi. Pada akhir tahun 2005, kelompok usaha formal bernama Wilmar International Limited memiliki total aset sebesar US $ 1,6 miliar, total pendapatan US $ 4,7 miliar, dan laba bersih sebesar US $ 58 juta. Meski begitu, beberapa waktu yang lalu perusahaan sawit Wilmar pun berteriak agar Indonesia bisa melakukan penerapan biofuel sesuai mandatori. Hal ini juga dikarenakan ekspor sawit ke Eropa mereka mulai menurun. Jelas, jika ekspor perusahaan kelapa sawit ini diusik, terang saja pendapatan mereka akan turun.

Dalam Peraturan Menteri ESDM No 25/2013, telah ditetapkan kewajiban melakukan bauran (manda-tory blending ) biodiesel sebesar 10% per Januari 2014, dan 20% per Januari 2016 sampai dengan 2020. Mandatori biodiesel pada 2013-2015 ditetapkan sebesar 10%. Namun ke depan, porsinya akan terus meningkat menjadi 20% pada 2016-2020. Jika konsumsi solar pada 2016 sebanyak 38,20 juta kl, konsumsi biodiesel bisa mencapai 7,64 juta kl. Sementara itu, pada 2020 konsumsinya diperkirakan menjadi 9,29 juta kl atau 20% dari total konsumsi solar 46,43 juta kl.