Jangankan Film Animasinya, ‘Merchandise’-nya Pun Dikuasai Asing

90

Teknopreneur.com- Korea boleh punya film animasi Pororo, Jepang dengan Doraemonnya, Malaysia Upin Ipin. Sementara Indonesia? Ya, Indonesia belum memiliki icon film animasi yang dikenal mewakili negara kita. Padahal jika ditilik lebih jauh, pasar animasi dapat menimbulkan dampak positif pada pasar merchandise juga. Hal ini pula yang membuat Rina Novita, Executive Director DNA Creative Production Media sangat prihatin. “Pasar merchandise Indonesia masih dikuasai Asing,” ungkapnya.

Rina memang benar. Lihat saja hasil penjualan merchandise film Frozen yang terus meningkat. Berbagai jenis mainan yang diproduksi Walt Disney tahun 2013 menjadi idaman para anak perempuan di Amerika. Pendapatan film ini secara global berhasil menembus angka US$1,3 milyar.

Berdasarkan survei National Retail Federation, tokoh  ini menggeser popularitas boneka Barbie dari peringkat satu selama 11 tahun. Sekitar 20% orangtua merencanakan untuk membelikan mainan Frozen untuk anak perempuannya.

Barbie, yang dipilih sebanyak 17% oleh para orangtua menyusul di posisi kedua. Sedangkan untuk permaian anak laki-laki, Lego masih menjadi nomor satu. Sekitar 14% orangtua memilih permainan ini untuk hadiah anaknya.

Penjualan barbie di seluruh dunia turun sekitar 21% di kurtal ketiganya tahun ini dan harga saham Mattel pun menurun 34% hingga saat ini. Atau cerita lain dari Pixar animasi, meski film Cars tak seheboh Frozen tapi nyatanya merchandise dari film cars di tahun 2011 saja mencapai US$10 miliar di seluruh dunia. Angka ini menjadi nilai penjual terbesar dalam sejarah saat itu.

Melihat kenyataan ini, Rina tak mau berdiam diri, Melalui perusahaan yang ia gawangi, ia berusaha memperkenalkan karakter kido sebagai merchendise agar bisa menjadi icon Indonesia yang dikenal masyarakat. Ia mengatakan langkahnya ini dimulai dengan menampilkan karakter ini di gramedia. (FJ)

Foto: cheapskateprincess.com