Teknopreneur.com – Akira Yasiranda (27 tahun) adalah tipikal konsumen yang menyukai berburu barang belanjaan melalui internet. Karyawan swasta di perusahaan biro iklan ini tak mau dipusingkan dengan harus pergi ke berbagai mal untuk mencari barang dambaannya. Ya, dirinya menginginkan sesuatu yang praktis. “Tinggal duduk, browsing, ketemu barangnya, lalu beli!” terangnya.

Namun, di belakang kepraktisannya itu timbul keluh kesah saat dirinya membuka salah satu website belanja online. Entah tiba-tiba saja, kegembiraannya untuk berbelanja berubah. “Mengganggu sekali jika ada iklan yang tampil seperti ini,” keluh wanita asal Surabaya itu.  Meski begitu, mau tak mau, dirinya harus menunggu sebentar agar iklan yang muncul di layar ponselnya menghilang.

Persoalan yang dialami Akira, umumnya disebut dengan Intrusive advertising atau bisa juga iklan sisipan. Iklan ini merupakan iklan yang dipasang oleh operator telekomunikasi melalui jaringan internet miliknya.  Bagaikan lampu yang memerlukan aliran listrik, situs atau website juga memerlukan jaringan telekomunikasi untuk menunjang kegiatan mereka di Internet, sehingga ‘mau tidak mau’ harus menampilkan iklan sisipan itu, yang akhirnya memberikan rasa yang tidak nyaman bagi si pengunjung situs.

Dari sekian banyak website yang mengalami hal itu,  mayoritas  e-commerce lah yang paling dominan menjadi korbannya. Sehingga wajar saja, jika perusahaan yang disebut juga sebagai situs belanja online tersebut, merasa risih dengan adanya intrusive advertising.

Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Semuel Abrijani Pangerapan menilai bahwa apa yang dilakukan operator telekomunikasi tidak memberikan rasa nyaman terhadap konsumen yang akan berbelanja. “Yang disalahkan pasti operator, karena pengguna e-commerce telah membeli paket internet, tapi kenapa malah dipaksa buat lihat iklan tersebut,” paparnya.

Hal itulah yang membuat pengunjung website akhirnya malas untuk berbelanja di situs tersebut. Dirinya pun khawatir jika praktik iklan sisipan tersebut masih terus dilakukan, bukan tidak mungkin ratusan atau bahkan ribuan pengguna e-commerce yang lainnya bakal enggan berbelanja online. “Bisa jadi pengguna e-commerce sudah tak aware lagi dengan adanya intrusive ad,” imbuh Semuel.

Kekhawatirannya itu tentu bukan tanpa alasan, sebab belakangan ini banyak pemberitaan soal penolakan praktik iklan sisipan yang digembor-gemborkan oleh berbagai perusahaan e-commerce yang tergabung dalam sebuah asosiasi e-commerce Indonesia (iDea). Aksi tak terima yang dilakukan mereka dituangkan ke dalam  sebuah petisi yang menuding tindakan para operator dianggap melanggar etika bisnis. Berdasarkan data yang diperoleh dari change.org September lalu, ada 15.393 orang yang telah menandatangani, serta 84 situs berbadan hukum yang tergabung dalam petisi tersebut.

Ketua iDea, Daniel Tumiwa pun ikut berkomentar soal ini. Menurutnya, tindakan para operator memasang intrusive ads, merupakan bentuk pelanggaran UU ITE. Kejadian ini, tentu saja disesalkan oleh dirinya. Terlebih, Daniel bilang, ada semacam ‘tebang pilih’ yang dilakukan operator terhadap OTT dari luar negeri seperti facebook, twitter dan lainnya sebagainya yang  tidak disisipi iklan seperti perusahaan e-commerce.

Menanggapi hal itu, Ketua Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI), Alexander Rusli membantah jika iklan yang disisipkan itu mengganggu. Dirinya pun mengibaratkan seperti pengguna jalan tol yang hendak memasuki tol disuguhkan iklan terlebih dahulu. Bahkan menurutnya, hal itu adalah hal yang wajar. “Ini memang jaringan operator dan yang investasi juga operator, pastinya hak operator untuk mencari penghasilan dari jaringan tersebut,” kata dia.

Memanasnya persoalan ini beberapa waktu lalu, nampaknya kini sudah mulai tenang atau mungkin tak ingin memperpanjang persoalan lagi. Seperti yang diutarakan oleh Digital Marketing Manager Blibli.com, Tabah Yudhananto. Menurut dia, mengganggu atau tidaknya sebenarnya tergantung pada customer itu sendiri. “Kalau keluhan langsung tidak ada, tapi ada yang pernah bertanya, kok ada iklan A di Blibli.com. Munculnya iklan itu disangka dari kita, itu jelas bukan dari kita tapi dari pihak operator. Yang kami harapkan hanya ingin memberikan kenyamanan bagi konsumen dan perlu dibicarakan kepada pihak Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDea),”ucap Anto sapaan akrabnya.

Meski sama-sama perusahaan e-commerce, tapi tanggapan berbeda terlontar dari Muhammad Arif, Feature & Marketing Campaign Manager Bhinneka.com. Menurutnya, hal itu justru tidak merugikan. Pasalnya, kata dia, banyak cara lain yang dapat dilakukan agar kerugian akibat iklan sisipan bisa ditutupi. “Misalnya dengan meningkatkan service penjualan online atau bisa juga dengan meningkatkan kualitas barang yang dijual,” jelas Arif.

 Jalan Tengah

Ketegangan yang mungkin sudah mereda ini, alangkah baiknya tetap diberikan solusinya. Menurut Semuel, persoalan ini sudah sepantasnya dibicarakan antarkedua belah pihak. “Seharusnya keduanya bisa duduk bersama, berembuk dan melakukan bedah kasus, dengan mengutamakan prinsip kenyamanan pelanggan,” kata dia. Dirinya pun tak ingin jika persoalan ini tak perlu dibawa sampai ke pengadilan selagi masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

“Akan tetapi, jika memang jalan kesepakatan telah ditempuh, tapi ternyata tidak membuahkan hasil juga, maka jalan satunya-satunya mungkin dengan melakukan class action di pengadilan,”ujarnya.

Kemudian ia mengatakan, Hal tersebut dilakukan, supaya dapat diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah. “Sebenarnya jika dilihat, ini hanya soal pembagian ‘kue’ binis yang belum ketemu titik tengahnya, sebab belum ada kesepakatan perihal pembagian hasil dari kedua belah pihak yang berselisih tersebut,”kata Semuel.

Kesepakatan antara kedua belah pihak, sebaiknya harus segera dicapai agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. hal itu, seperti ucapan Semuel yang mengatakan bahwa, kalau ini terus menerus dibiarkan bisa merusak iklim usaha keduanya.

Ia membayangkan,“Coba kalau misalkan nantinya mereka saling boikot. Semisal e-commerce berkeputusan untuk tidak menggunakan jaringan dari pihak telekomunikasi lagi, begitu pula sebaliknya.”

Tentunya hal tersebut, dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan e-commerce di Indonesia. “Dan juga, bagi pihak operator bisa saja mengalami kerugian, karena pelanggannya yang tak lagi membeli paket internet untuk belanja online, sementara sebagian besar penghasilan perusahaan telekomunikasi saat ini, berasal dari layanan internet,”ujarnya.

Rusli pun menyetujui hal itu dengan memberikan pemahaman lebih mengenai  pengertian antara operator sebagai penyedia jaringan dengan e-commerce sebagai penyedia layanan OTT. “Sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi antar keduanya,”pungkasnya.

Semoga saja jalan tengah ini, membuat Akira nyaman kembali. Akhirnya, e-commerce untung operator pun untung, sehingga ke depan tak perlu ada yang buntung.

(FJ & IR)