Teknopreneur.com – Pengembangan-pengembangan tenaga nuklir rasanya perlu juga diketahui. Saat ini nuklir dalam penerapannya sudah mencapai pada generasi ke III atau biasa disebut dengan Gen III. Perkembangannya memang begitu pesat, bukan hanya untuk kepentingan energi semata, lebih dari itu nuklir memberi kontribusi yang besar bagi kemajuan teknologi bidang lainnya.

Seperti yang diketahui, saat ini, lebih dari 30 negara telah memanfaatkan teknologi nuklir untuk pembangkitan listrik (PLTN). Di negara –negara yang sudah akrab dengan nuklir, teknologi bersumber uranium itu sudah dimanfaatkan di bidang lainnya, seperti kesehatan,pangan, industri, dan lingkungan.
Indonesia sendiri, sampai saat ini pemanfaatan teknologi nuklir belum diaplikasikan untuk energi listrik. Namun bidang lainnya sudah tersentuh oleh nuklir. Meski begitu tidak salah mengetahui generasi nuklir dari awal hingga saat ini.

Pada generasi pertama, prototype reaktor zaman awal tahun 1950 an dan 1960 an, seperti Shippingport (1957-1982) di Pennsylvania; Dresden-1 (1960-1978) di Illinois; kemudian Calder Hall-1 (1956-2003) dan Wylfa (1971, unit 2 sampai dengan Desember 2012, unit 1 sampai dengan 2015) di Amerika.

Sementara, untuk generasi Gen II adalah reactor komersial yang didesain agar ekonomi dan handal, berusia pakai 40 tahun. Sebagai contoh; pressurized water reactors (PWR), boiling water reactors (BWR), CANada Deuterium Uranium reactors (CANDU), advanced gas-cooled reactors (AGR), dan Vodo-Vodyanoi Energetichesky Reactors (VVER).
Dan yang terakhir adalah Gen III. Gen III ini adalah evolusi dari reactor Gen II dengan desain “State of the art” dalam hal teknologi bahan bakar, efisiensi termal, konstruksi modular, sistem keselamatan (khususnya penggunaan sistem pasif), dan desain yang terstandar, sehingga umur operasinya diperkirakan mencapai 60 tahun atau bahkan lebih. Setelah Gen III ini, teknologi nuklir terbaru sedang dikaji para peneliti hingga mampu mengurangi risiko-risiko yang terjadi.