Teknopreneur.com – Kamis (27/11) kemarin, dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan dukungannya tehadap perpanjangan pembicaraan nuklir antara Iran dengan Negara-negara besar dunia.

Iran menjadi bulan-bulanan dunia internasional terkait dengan program nuklir yang mereka miliki. selama ini Iran selalu menolak tudingan program nuklirnya terkait kepentingan militer. Dan menegaskan, program nuklirnya sepenuhnya untuk kepentingan damai.

Negara mullah ini memang mengandalkan nuklir sebagai pasokan untuk menutupi kebutuhan energy mereka. Sayangnya citra Iran sebagai negara yang memusuhi Amerika Serikat kadung melekat, sehingga selalu dicurigai pengembangan nuklir untuk militer.

Selain Iran, Jepang juga sangat mengandalkan nuklir sebagai pasokan utama energi. Pasca bocornya PLTN Fukushima, Jepang mengeluarkan banyak dana untuk belanja sumber energi pengganti. Hal ini membuat Pemerintah jepang memutuskan untuk kembali mengaktifkan beberapa reactor nuklir.

Saat ini Jepang mengandalkan 52 PLTN untuk memenuhi 30 persen kebutuhan energinya. Dengan berhentinya penghentian operasional PLTN, ekonomi Jepang dipastikan berantakan

“Orang Jepang sadar pentingnya PLTN untuk memasok energi dan ada desakan dari pihak industri untuk memperbaiki perekonomian,” ujar Takehiko Mukaiyama, ilmuwan energi nuklir dari Japan Atomic Industrial Forum-International Cooperation Center.

Indonesia maju dengan nuklir

Lain Jepang lain Iran, lain pula dengan Indonesia. Kendati memiliki potensi dan sdm yang memadai, penggunaan energi nuklir memang belum digunakan secara luas. Pemerintah tampaknya masih ragu untuk memanfaatkan nuklir—entah karena politis atau alasan keamanan. Padahal, penggunaan energi nuklir jauh lebih aman ketimbang penggunaan energi lain untuk listrik.

“Nuklir yang selalu digembar-gemborkan hanya kejadian yang membahayakan saja, kita akan terus mencari agar nuklir tidak berbahaya” ujar Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Marwah Daud Sulistyo di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, pada Kamis (27/11/2014) kemarin.

Marwah menjelaskan bahwa pemerintah seharusnya bisa diyakinkan soal kemanan nuklir, dan ini membutuhkan langkah bersama untuk mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan soal pemanfaatan listrik tenaga nuklir.

Banyak bukti bahwa pemanfaatan energi nuklir tidak berbahaya jika dilakukan secara benar. Marwah memberikan contoh pemanfaatan nuklir di beberpa negara.

“Industri kita akan maju, kalau bisa memanfaatkan energi nuklir. Contohnya Jepang yang luasnya hanya sepertiga dari Indonesia, sudah memiliki 55 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Amerika 57 dan Indonesia belum punya. London sendiri sudah 80 persen energi listrik dari nuklir,” jelasnya.

Sementara kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Jazi Eko Istiyanto menyatakan adanya strategi nasional untuk mencegah kecelakaan nuklir. Strategi itu mencakup prevention  melalui perijinan dan penguatan sara keamanan. Kemudian detection untuk mengetahui sejak dini jika ada potensi kecelakaan melalui Radiation Portal Monitor yang ditempatkan di lokasi strategis. Dan yang terakshir response sebagai reaksi penanggulangan yang cepat.

Rusia tertarik investasi

Jika saja pemerintah sudah mengambil keputusan untuk memanfaatkan energi nuklir, sudah ada pihak yang bersiap untuk meminang proyek tersebut. Sudah ada tawaran investasi dari Pemerintah Rusia melalui BUMN Rusia, Rosatom State Atomic Energy Corporation (Rosatom).

Pihak Rosatom menawarkan kerjasama yang menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir. Mulai dari pembangunan pembangkit, pengolahan, hingga soal SDM. Bahkan termasuk pembiayaan dan alih teknologi dan peningkatan kandungan lokal.

Seperti yang dilansir oleh laman resmi Kementerian ESDM, Jumat (28/11/2014), Pemerintah Rusia menawarkan kerjasama pada Indonesia untuk mengembangkan dua blok PLTN senilai US$8 miliar atau Rp97,4 triliun. PLTN yang akan dikembangkan tersebut rencananya berkapasitas 2.400 megawatt (mw).

“Pemerintah Rusia akan memberikan bantuan pinjaman untuk pembangunan PLTN, bantuan pembiayaan dapat dalam bentuk bantuan kenegaraan, joint venture antara Rosatom dan perusahaan lokal atau konsorsium , semua peluang masih terbuka,” kata Senior Expert, Representasi Perdagangan Federasi Rusia di Republik Indonesia, Sergey Kukushkin.

Sayangnya, tawaran Rusia ini belum mendapatkan respon positif dari Pemerintah Indonesia. Konon pemerintah beralasan bahwa Indonesia masih mengandalkan sumber energy lain dan belum memprioritaskan energi nuklir. Amat disayangkan padahal, untuk memenuhi kebutuhan energi sebesar 1.000 megawatt (mw), hanya diperlukan 72 ton uranium bandingkan dengan batu bara yang menghabiskan 2,6 juta ton atau 20 ton untuk minyak bumi. Sungguh lebih efisien. Sayangnya pemerintah kita kelihatannya masih belum punya nyali.