Teknopreneur.com – Berdasarkan tantangan dinamika lingkungan strategis pembangunan pertanian Indonesia, mulai dari pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan konversi lahan pertanian produksi yang hanya mencapai 100.000 hektar/tahun. Ditambah lagi, perluasan lahan pertanian yang berjalan lamban, serta menurunnya rumah tangga tani sekitar 5 juta selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

Menurut Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, ir. Rudi Tjahjohutomo, produksi pangan menunjukkan trend yang positif dari tahun ke tahun. “Hal itu, dikarenakan peran serta inovasi teknologi di bidang pertanian, yang saat ini mulai digunakan oleh petani kita, dalam rangka meningkatkan produktivitas di lahan usaha taninya,”katanya.

Ia pun menyarankan, agar teknologi pertanian konvensional diganti dan dikembangkan dengan teknologi yang lebih modern, dan sudah dikuasai oleh para peneliti atapun perekayasa Badan Litbang Pertanian. “Ada 4 pilar pertanian modern yang bakal diterapkan oleh Balitbang Pertanian,”ucapnya.

Empat pilar tersebut yakni,  aplikasi teknologi dan inovasi bio science, aplikasi teknologi dan inovasi untuk merespon dinamika iklim, aplikasi teknologi informasi untuk mengembangkan Katam Terpadu menjadi Agromap Info, dan Inovasi teknologi Bio Engineering, seperti aplikasi nuklir (radio isotope untuk tracking ketersedian air tanah, preservasi bahan pangan dll).

“Dengan begitu, tentunya akan memberikan nilai tambah, daya saing, serta keamanan pangan yang ramah lingkungan (minimum waste) untuk mencapai kedaulatan pangan dan kejayaan pertanian Indonesia,” ucapnya. Namun, yang jadi pertanyaan apakah petani Indonesia sudah siap dan mampu mengaplikasikan teknologi modern dalam pertanian mereka?