Teknopreneur.com – Untuk memproduksi 1 KWH energi listrik ternyata lebih mahal dibandingkan dengan biaya untuk menghemat energi listrik. Maka itu perlu pengoptimalisasian efisiensi dan konversi energi untuk mencapai tujuan pembangunan tanpa harus menambah pasokan energi.

Menurut perwakilan Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEI), RM Soedjono Respati, upaya yang dilakukan ternyata tidak mudah karena sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia yang boros energi. Regulasi pun tak tanggung-tanggung dibuat untuk melaksanakan gerakan hemat energi, dari Keppres no 43 tahun 1991 tentang kampanye hemat energi nasional hingga kebijakan umum bidang energi untuk mendisrvesikan, intensifikasikan, mekanisme pasar dan kebijakan lingkungan menyangkut konversi energi.

Lagi-lagi ini adalah masalah kultur yang mesti diubah. Karena nyatanya tak semua energi bisa diperbaharui. Energi yang semakin langka berakibat fatal pada kenaikan harga bbm, dan hingga kini energi alternatif yang disebut- sebut sebagai solusi nyatanya tak mampu menangani. Contoh nyatanya mobil hybrid yang merupakan subsitusi mobil berbahan bakar solar atau premium justru harganya melampau tinggi. Begitu juga dengan teknologi pemanas surya untuk rumah ternyata lebih mahal ketimbang energi listrik.

Sama halnya dengan tenaga nuklir tak semua orang berani menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir. “Tak perlu jauh masyarakat awam presiden kita saja mungkin menolak jika di sebelah istananya dipasang pembangkit tenaga nuklir karena terlalu bahaya,” kata Marzan ex Kepala BPPT.

Pemerintah harus mengkaji ulang, bahwa ternyata di lapangan penghematan energi belum seimbang dengan upaya fiskal. Saat ini Martije Hutapea, Direktur Konservasi Energi pun mengupayakan berkomunikasi dengan kementerian lainnya agar kebijakan piskal bisa dikaji ulang. Selain itu ada dana khusus untuk konservasi dan efisiensi energi yang pernah dijanjikan oleh kementerian keuangan sebelumnya.