Teknopreneur.com – Antara 2014-2035, sektor kelistrikan dunia membutuhkan investasi kumulatif sebesar US$16.4 triliun—dengan rata-rata investasi per tahun US$740 miliar. Sekitar 58% dari investasi sektor listrik dialokasikan untuk pembangunan pembangkit lsitrik baru dan perbaikan pembakit lama yang sudah beroperasi. Sisanya digunakan untuk memperbaharui jaringan transmisi dan distribusi.

Seperti yang disebutkan dalam World Energy Investment Outlook, negara-negara OECD menyumbang US$6.2 triliun terutama untuk mengganti infrastruktur lama dan upaya pemenuhan target dekarbonisasi. Dalam laporan ini juga disebutkan bahwa pemerintah di negara-negara OECD perlu memfasilitasi peran yang lebih besar bagi modal swasta untuk memenuhi kebutuhan dana US$10 triliun untuk memperluas jaringan dan kapasitas pembangkit demi memenuhi pertumbuhan permintaan yang cepat.

Selain investasi di negaranya, negara-negara OECD juga disinyalir masih tertarik untuk berinvestasi di bidang power di negara lain. Tengok saja Finlandia yang telah merampungkan program Energy and Environment Partnership (EEP) bersama pemerintah Indonesia yang terdiri dari 20 proyek kegiatan di Riau dan Kalimantan Tengah. Dengan Total investasinya sebesar 3,03 juta poundsterling.

Dari 20 proyek yang telah digelar itu, lima di antaranya untuk studi kelayakan pembangkit listrik tenaga (PLT) biomassa dan PLT biogas berkapasitas total 20 Megawatt (MW). “Salah satu tujuan program itu untuk  membantu pihak swasta mengembangkan proyek biomassa atau biogas secara komersial,” kata Dadan Kusdiana, Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).