Teknopreneur.com – G20 Leaders Summit yang diselenggarakan di Brisbane, Queensland (15-16/11) ternyata telah mengarahkan perhatian global terhadap bagaimana investasi di industri kreatif dapat membawa manfaat di berbagai sektor selain seni dan budaya.

Saat ini tak bisa dihindari, banyak orang semakin setuju bahwa industri kreatif digital memberi peranan yang amat penting bagi kemajuan sebuah negara.

Melalui Queensland Goverment, Direktur ARC, Profesor Stuart Cunningham mengatakan teknologi telah memicu penciptaan lapangan kerja dalam industri kreatif dengan kegiatan business-to-business; seperti desain, arsitektur, konten digital, pengembangan perangkat lunak, periklanan, dan pemasaran, yang menciptakan pertumbuhan yang tinggi dan kegiatan ekonomi yang sangat inovatif.

Ia melanjutkan bahwa data sensus terkini mengarah kepada meningkatnya peranan layanan kreatif dalam arus utama perekonomian. Contoh-contohnya termasuk desainer digital interface yang telah membantu merevolusi industri keuangan, penulis teknis dalam ekspor pendidikan online, atau ahli simulasi dan permainan yang membuat lingkungan pelatihan bagi perusahaan tambang atau operasi pertahanan.

Lewat gelaran ini, Queensland memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada negara-negara anggota G20 bahwa mereka memiliki kawasan Industri Kreatif di University of Technology (QUT) di Brisbane, yang merupakan pusat inkubasi start-up digital, pendidikan budaya dan industri kreatif. Area yang bernilai AUD 60 juta ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas digital tercanggih di Australia. Terletak di area ternama Kelvin Grove Urban Village (hasil kerja sama antara Pemerintah Queensland dan QUT), kawasan Industri tersebut adalah inkubator bagi terobosan ide, seniman eksperimental, desainer, dan perusahaan kreatif di masa depan. Kawasan Industri tersebut juga merupakan lokasi dari Fakultas Industri Kreatif QUT dan Centre of Excellence for Creative Industries and Innovation (Pusat Pelatihan untuk Industri Kreatif dan Inovasi) milik ARC.

Direktur ARC, Profesor Stuart Cunningham, mengatakan bahwa pusat tersebut adalah pelopor global untuk kategori perusahaan kreatif dan inovasi, begitu pula untuk penelitian yang didasarkan pada industri kreatif, platform digital, dan ekonomi.

“Kawasan ini merupakan pemimpin tidak hanya dalam melatih tenaga kerja kreatif, tetapi juga dalam mengembangkan penelitian kreatif dan inovasi, dan mendukung pertumbuhan melalui program kemitraan,” kata Profesor Cunningham.

Dia juga mengatakan bahwa Kawasan Budaya QUT mengakui peran industri kreatif dalam “menyuburkan” perekonomian mereka, tak lupa ia mengajak negara-negara lain yang hadir di dalam G20 di Brisbane untuk mempelajari lebih lanjut tentang model, keahlian, dan peluang kemitraan di sana.

Bagaimana dengan Indonesia?

Jangan salah, Indonesia juga punya kota-kota pusat inkubasi yaitu Bandung Digital Valley dan Jogja Digital Valley.

Kedua kota ini merupakan inkubator bisnis ICT yang dikembangkan oleh Telkom untuk melengkapi ekosistem kreatif digital, yang bertujuan untuk meningkatkan akselerasi jumlah pengembang untuk games, edutainment, music, animation dan software services khususnya di kedua kota ini dan sekitarnya.

Bandung dan Jogja digital valley akan menjadi wadah strategis bagi potential individual developer dan startup companies yang men-supply creative content untuk IT product dan service yang akan ditawarkan secara aktif ke IT market yang sedang booming saat ini salah satunya melalui jaringan distribusi online dan offline yang dimiliki Telkom di seluruh Indonesia dan negara lain.

Kedua kota ini juga akan memberikan edukasi dan pendampingan bisnis bagi seluruh pengembang baik kompetensi teknis maupun kompetensi bisnis sehingga setiap pengembang dapat mengkomersialisasikan hasil inovasinya dengan menyediakan fasilitas pendukung yang lengkap mulai dari tahap pengembangan, desain, hingga komersialisasi.

Kalau Indonesia juga sudah punya kawasan digital,jangan mau kalah dengan negara lain dong untuk terus berkarya di pasar dalam negeri dan internasional. Tapi tak ada salahnya juga kita mengadopsi ilmu-ilmu yang diterapkan QUT kan? (FJ)