Teknopreneur.com – Menurut CIGI dan Ipsos, 92% dari pengguna internet di Indonesia serta 83% pengguna internet global, meyakini bahwa pemerataan akses internet  harusnya menjadi hak asasi manusia. Hasil survei dari Centre for International Governance Innovation (CIGI) dan perusahaan riset global Ipsos, disajikan hari ini di Ottawa, Kanada.

Menurut responden, saat ini dua pertiga dari pengguna internet global atau sekitar 64%, lebih peduli tentang privasi online dibandingkan satu tahun lalu. Ketika survei memberikan pilihan kepada berbagai sumber untuk Internet, mayoritas (57%) memilih model multi-stakeholder untuk perusahaan teknologi, teknisi, organisasi dan lembaga non-pemerintah, hingga warga biasa.

Sementara itu, menurut hasil suvei tersebut, pengguna internet di Indonesia yang peduli tentang privasi online hanya 61%, atau lebih sedikit dibandingkan dengan rata-rata global. Akan tetapi, Kepercayaan pemerintahan terhadap multi-stakeholder Internet di Indonesia sebesar 75% lebih tinggi dari rata-rata global.

Menanggapi hal itu, Direktur Global Security and Politic Program CIGI, Fen Hampson menyatakan,“Ini merupakan temuan luar biasa, sikap pengguna internet global perihal kekhawatiran terhadap keamanan data pribadi manusia yang telah pindah dari dunia fisik ke dunia digital. Ada defisit oleh pengguna internet global terhadap identitas online mereka, karena takut data pribadinya dicuri oleh oknum tidak bertanggung jawab yang dikenal sebagai hacker.”

Ia menambahkan, kepercayaan para pengguna intenet global dapat dipulihkan melalui tata kelola internet dengan kualitas keamanan yang tinggi, baik dari pihak pemerintah maupun para stakeholder.