Teknopreneur.com – Riset Teknopreneur di Industri Software DKI Jakarta mencatat bahwa 93% software lokal kalah bersaing dengan software internasional. Hal tersebut diperkuat oleh Darwin Tjoe, CEO Pt CSSoft, menurutnya sudah agak terlambat mempermasalahkan software luar atau lokal pada era globalisasi. Apakah kita bisa hidup tanpa Yahoo, Google, Facebook,Twitter,Path,Whatsapp,BBM,Windows, Office, Photoshop karena memang mereka lebih unggul. Dan sebaiknya sebaiknya tidak bermimpi. Namun software yang mengandung local content, atau aplikasi yang belum ada produk yang terlalu kuat, pasti kita bisa unggul. Analoginya seperti bisnis koran,sehebat-hebatnya Kompas, di Bandung Pikiran Rakyat lebih unggul, di Surabaya ada Jawa Pos, di Yogyakarta ada Kedaulatan Rakyat, di Semarang ada Harian Merdeka. Hampir di setiap daerah, koran lokal selalu menjadi raja. Hal ini dikarenakan adanya local content yang tidak bisa diakomodir oleh koran nasional.

Hal yang sama juga berlaku didalam industri software. Itulah mengapa Google, Twitter tidak bisa berjaya di China. Memang ada campur tangan pemerintah disana, tetapi keunikan dan karakteristik yang spesifik di China bisa dimanfaatkan dengan baik oleh industri IT yang menjadikan keunggulan kompetitif software-software China bisa berjaya di negaranya sendiri. Sebagai contoh produk kami sendiri, ACCURATE Accounting Software sanggup bersaing dan bisa merebut pangsa pasar lebih baik dari produk sejenis dari luar negeri.

Menurut Richard Kartawidjaya, Ketua Bidang Konten Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel)kita memang memiliki software-software lokal yang canggih namun sayang tidak terdengar jadi baru sedikit yang tahu dipasaran akibatnya tak semua menggunakan. Mau tak mau kita memang menggunakan software luar.