Teknopreneur.com – Potensi aquaculture di Indonesia memang sungguh prospektif. Apa pasal? Indonesia merupakan produsen terbesar setelah China dan India. Hal itu seperti yang dituturkan oleh pakar aquaculture dari IPB, Irzal Effendi. Meski begitu, menurutnya, potensi yang besar itu masih kurang dioptimalkan. Misalnya saja, kata dia, saat ini potensi aquaculture masih didominasi pada sektor tambak dibandingkan dengan laut. “Sektor kelautan masih sekitar 1-3 persen dan sektor tambak itu sudah mencapi 30 hingga 40 persen,” ungkapnya.

Keadaan ini sudah barang tentu disayangkan oleh dirinya. Padahal, dia bilang, besarnya potensi ini suatu saat nanti khususnya aquaculture dapat menjadi penyedia pangan dunia. “Seharusnya negeri ini bisa mengikuti jejak Norwegia yang bisa memberdayakan sektor aquaculture-nya,” jelas dia. Oleh karena itu, dirinya mengharapkan di pemerintahan Jokowi dan JK harus mampu memberdayakan potensi di sisi kelautannya. Tantangan untuk mewujudkan hal ini memang berat, sebab menggeser paradigma masyarakat tidaklah mudah. Dibutuhkan perjuangan agar nantinya paradigma kelautan mampu menjadi positioning di dalam pikiran masyarakat.

Adapun dirinya mengungkapkan beberapa cara agar potensi ini bisa terwujud secara maksimal. Pertama, perluasan area. Saat ini area darat di negeri ini sudah mulai mengalami konflik, satu-satunya alternatifnya adalah mengotimalkan laut sebagai perluasan area. Kedua ialah meningkatkan implementasi di bidang teknologi. Maklum, saat ini masih banyak yang menggunakan cara-cara tradisional dibandingkan dengan metode-metode modern. Dan yang ketiga, sarana dan prasarana seperti pakan, benih, dan sumber daya manusia. “Yang diutamakan adalah sumber daya manusia. Saat ini masih kekurangan sumber daya manusia di bidang ini,” tutupnya.