Teknopreneur.com – Beberapa waktu yang lalu, pemerintah menawarkan tender panas bumi Matalako, yang terletak di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Penawaran pemerintah itu, direspon kurang oleh para pengembang. Apa pasal? Kapasitas yang dihasilkan energinya hanya 10 MW sehingga tentu saja hal ini tak menarik untuk dikembangkan. Lalu, bagaimana solusinya?

Pengamat energi panas bumi dari Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Suryadarma mengatakan proyek yang sedang ditenderkan oleh pemerintah itu merupakan bekas dari eksplorasi badan geologi dalam rangka membuat contoh hingga proses eksplorasi. “Karena itu bekas hasil eksplorasi badan geologi, artinya kepentingan pemerintah di wilayah sana harus clear sehingga bisa saja pihak swasta ada yang tertarik untuk mengeksplorasi sumur di sana,” ungkapnya saat dihubungi teknopreneur.com.

Sebagaimana diketahui, sumur panas bumi Matalako di sana enggan di kembangkan lebih jauh oleh beberapa penggembang, misalnya saja Star Energy. Menurut Senior Representative Management Star Energy Sanusi Satar yang dikutip teknopreneur.com dari kontan.co.id, potensi wilayah kerja panas bumi Matalako terlalu kecil bagi perusahaan mereka. “Kami suka kapasitas yang besar,” tegas dia.

Sebab investasi untuk pengembangan panas bumi untuk kapasitas besar dan kecil sama saja. Untuk pengembangan panas bumi untuk kapasitas 1 MW sebesar US$ 3,5 juta sampai US$ 4 juta. Dengan dana sebesar itu, dibutuhkan waktu delapan sampai 10 tahun untuk pengembalian investasinya.