Teknopreneur.com – Sejak periode pemerintahan SBY swasembada beras memang terus digelontorkan namun nyatanya impor tetap saja dilakukan. Di bulan Februari lalu, impor mencapai  200 ton atau US$1,2 juta, di bulan Maret  26.867 ton atau senilai US$11,2 juta, bulan April  31.145 ton atau US$13,5 juta. Periode Juli-Agustus mencapai 50.000 ton.

Meski impor hampir setiap bulan dilakukan namun di pemerintahan baru, Jokowi-JK swasembada beras tetap saja dicanangkan tak main-main target yang akan dicapai hanya tiga tahun. Namun nyatanya bulan September hingga bulan ini impor beras  masih dan angkanya lebih tinggi dibandingkan pemerintahan sebelumnya, sebesar 175.000 ton atau 58.333 ton/bulan.

Mengaca dari data tersebut dan penyataan dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang menyebutkan bahwa negara bisa dikatakan swasembada jika maksismal 9 persen total keseluruhan kebutuhan domestiknya dapat dipenuhi sendiri atau 10 persennya masih tergantung oleh impor. 

Dr Haryono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan menyatakan optimis swasembada bisa dilakukan asalkan pemerintah memang benar-benar menyetop impor beras dari negara luar dan benar-benar menerapkan teknologi pertanian misalnya menanam bibit inpari 30 yang memang tahan terhadap hujan. Sehingga bisa memcegah dari kontaminasi saat terlalu banyak terendam air, Menuruntnya Indonesia tak kalah kok dengan Vietnam dan Thailand, tambahnya. Petani kita pintar-pintar hanya kalah saing dengan beras dari luar.  Ia tetap optimis Swasembada bisa dilakukan tiga tahun mendatang. (FJ)