Teknopreneur.com – Untuk mendorong kebijakan Presiden Joko Widodo mengenai konversi energi dari bahan bakar fosil ke energi alternatif seperti gas (BBG) maupun bahan bakar nabati (BBN), maka sudah sepatutnya menggandeng industri otomotifnya. Menurut Direktur Eksekutif Center For Energi And Strategic Reseorces (CESRI), Prima Mulyasari Agustini, saat ini pemakaian BBM yang paling banyak berasal dari transportasi. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya pemerintah saat ini harus bekerjasama dengan produsen kendaraan bermotor, agar mereka segera memproduksi kendaraan hybird untuk hemat energi.

“Koordinasi antara pemerintah dengan produsen kendaraan penting, agar sektor ini daya tawar yang lebih. Jika ini terjadi, maka kemungkinan program itu akan berjalan,” katanya.

Momentum naiknya harga BBM, dapat menggenjot program konversi energi. Misalnya momentum untuk mendorong masyarakat beralih ke bahan bakar gas. Meski begitu, dirinya pun sadar bahwa untuk terlaksananya program itu haruslah ada sarana yang mendukung, namun ironisnya hal itu juga belum lengkap. Seperti halnya untuk mendorong mobil pribadi mengkonversi bahan bakar dari BBM ke BBG, saat ini harga konverter kit masih tergolong mahal, sekitar Rp 15 juta per unit. Selain itu standar keselamatan dari konverter kit tersebut juga belum teruji saat harus diintegrasikan dengan kendaraan bermotor jenis tertentu.

Tanpa kebijakan kongkrit, Indonesia akan mengalami krisis energi. Sebab saat ini cadangan minyak Indonesia tinggal 4 miliar barel atau 10 tahun lagi habis. Produksi minyak juga terus susut dari 1,41 juta barel barel per hari (bph) di akhir 2000, menjadi 798.000 bph di Oktober 2014. Mampukah hal itu terwujud?