Teknopreneur.com – Keluarga Mahasiswa ITB menolak keras dinaikkannya harga BBM. Meski begitu, mereka menginginkan adanya sebuah energi alternatif pengganti BBM. Menurut mereka dalam pesan singkat yang diterima teknopreneur.com, prospek yang paling menjanjikan untuk mengganti BBM adalah BBN. Ini artinya negeri ini harus memperbanyak untuk menciptakan dan mengembangkan industri bioefuel dengan memproduksi biodiesel dan bioetanol. Dengan mengembangkan industri tersebut, maka keniscayaan bisa mengurangi ketergantungan impor BBM dari negeri tetangga akan terjadi.

Misalnya dengan 30 sen dolar AS per liter, devisa sebesar 216 juta dolar AS (Rp 2 triliun) akan mengurangi penggunaan 720 ribu kilo liter impor solar. Bukan hanya itu, pengurangan BBM juga bisa mengurangi angka pengangguran karena bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 65 ribu orang, sehingga akan dibutuhkan lahan minimal 200 ribu hektar perkebunan dan akan menyerap 5000 tenaga kerja di perkebunan.

Begitu juga pada subsistusi dengan bioetanol, jika 2 persen konsumsi premium diganti dengan bioetanol, maka akan dibutuhkan sekira 420 ribu kiloliter bioetanol. Yang kiranya akan membutuhkan 2,5 juta singkong yang dihasilkan dari 90 ribu hektar kebun dan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 650 ribu orang di perkebunan dan seribu orang di pabrik. Jadi, devisa sebesar 126 juta dolar AS (Rp 1,16 triliun) akan bisa dihemat dari pengurangan impor premium, dengan asumsi harga premium impor 30 sen dolar AS per liter.

Bandingkan dengan masih menggunakan BBM yang semakin tahun semakin defisit sehingga harus ditutupi dengan mengimpor dari negara tetangga. Alhasil tak sedikit devisa negara yang terkuras dari tahun ke tahun akibat Tercatat besarnya defisit pergangan migas di tahun 2010 sebesar US$2 miliar, tahun 2011 sebesar US$0,7 miliar, tahun 2012 naik lebih dari tujuh kali lipat menjadi US$ 5.2 miliar dan tahun 2013 mencapai US$9,7 miliar. Terjadinya defisit neraca migas ini merupakan akibat dari produksi migas nasional yang menurun sedangkan impor minyak bumi justru semakin besar. Lalu, masih pantaskah negeri ini dijuluki negeri kaya minyak bumi?

Ini bukan hanya peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan pembangunan ekonomi namun juga bisa mengurangi emisi karbon dioksida karena menerapkan teknologi clean energi akibat dari asap kendaraan yang menggunakan biofuel yang mengurangi polusi. Jadi tak ada salahnya kan beralih ke biofuel. Jika hal ini terjadi, rasanya jargon ‘Indonesia kaya akan minyak bumi’ seakan segera menjadi sejarah saja. (FJ)