Teknopreneur.com – Potensi Indonesia yang memiliki pengguna media sosial ke empat terbanyak di dunia ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi Sotrender-Social Media Analytics to optimize marketing/campaign. Software  yang  yang membantu  menganalisis berapa jumlah orang yang mengunjungi media sosial  suatu perusahaan. Dari Facebook, Twitter hingga Youtube.

Aplikasi yang berkerjasama dengan Joy Intermedia memang masih berusia dua bulan di negara kita  namun ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi perusahaan di Indonesia, khususnya e-Commerce seperti Lazada, OLX dan Blibli.com. Karena  Sotrender.berbeda  dengan software kebanyakan yang hanya memberikan data berapa jumlah pengunjung media sosial.

Namun aplikasi yang didirikan di Polandia oleh Jan Zajac ini, juga menggambarkan secara detail, berapa sering orang yang hanya mampir ke medsos untuk membaca informasi yang dishare, ikut berkomentar di media sosial, hanya me’like’ bahkan informasi berapa jumlah orang yang hanya numpang promo (iklan gratis).  

Selain Sotrender, terdapat juga aplikasi analisis yang hampir sama  yakni Brand24-media listening tool untuk sebuah brand.  Aplikasi yang ini lebih lama di Indonesia dan memiliki kelebihan bisa  mencari data admin  yang sering mengunjungi media sosial perusahaan. Apakah itu admin itu milik personal,  milik perusahaan, atau bahkan hanya admin penyebar virus dan harus dihapus. Kedua aplikasi yang berpusat di Singapura ini pun memiliki kemampuan automatic report

Dan tak hanya itu, bisa juga memberikan data dari hari perhari bahkan dari jam ke jam serta memberikan deskripsi detail mengenai mana informasi yang paling jarang disukai dan paling disukai oleh pengunjung. Dan apa penyebabkannya. “OLX salah satu klien dari Sotrender ternyata cukup terbantu dengan aplikasi ini karena ia bisa melihat kekurangan dari media sosial dan apa yang harus diperbuat,” kata Romi Yandika Business Development Manager  Joy Intermedia.

Misalnya saja ia ternyata jumlah fans di OLX yang banyak tak sebanding dengan jumlah orang yang sering mampir ke media sosialnya, bahkan tidak setengahnya. Sehingga harus ada yang diperbaiki dalam manajemen waktu atau strategi admin dalam mengeshare informasi sehingga admin tak sekedar mengshare namun tak ada yang membaca atau hanya numpang lewat. Namun si pembaca bisa lama berdiam diri di media sosial buatannya. Sehingga rating pun naik karena tahu letak kelemahan setelah dianalisis. (FJ)