Teknopreneur-com.  Meski rakyat Indonesia menjerit meminta BBM tidak dinaikkan toh harga BBM tetap saja menjulang.  Suka tak suka rakyat harus menerima. Maka dari itu diperlukan solusi bukan untuk menurunkan harga bbm tapi mencari bahan bakar alternatif yang perannya sama dengan BBM, BBN misalnya.

Bahan bakar nabati (BBN) ini diharapkan bisa menjadi solusi . BBN dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni biodiesel,bioetanol, dan minta nabati murni (bio-oil,pure plant oil. Salah satu BBN yang produktif  karena bisa menghasilkan BBN hingga 4000 liter per hektar pertahun pada perkebunan yang dikelola dengan baik. Minyak sawit dihasilkan oleh buah yang kandungan minyaknya sesuai dengan kematangan buah. 

Namun kekurangan kelapa sawit harganya memang mahal, karena perawatannya harus maksimal.  Tapi  ada tanaman yang bernilai ekonomi tinggi namun sering terlupakan yakni jarak pagar, tanaman yang hidupnya bisa mencapai usia 50 tahun ini dan tidak memerlukan banyak air.

Ada juga dari tanaman nenek moyang kita, singkong yang bisa diolah menjadi bioetanol . Etanol ini bisa menjadi bahan bakar pengganti bensin karena mudah terbakar dan memiliki kandungan kalor bakar netto yang besar yakni 21 MJ/liter atau 2/3 dari kalor bakar netto bensin. Pemerintah sendiri telah menargetkan pengembangan BBN yang dinyatakan dalam kebijakan energi nasional yaitu mencapai pangsa 5% dalam energy-mix nasional pada tahun 2025.

Uji coba pergantian BBM ini sudah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia dalam membentuk tim kerja pemanfaatan BBN pada pesawat udara  dan energi terbarukan di bandar udara. Inisiatif ini menyikapi kondisi penyediaan bahan bakar yang menipis dan memanfaatkan energi selain migas,” kata Sekjen Kemenhub Santoso Edi kepada wartawan. Jadi setidaknya dengan kehadiran BBN ini maka bisa mengobati kekecewaan terhadap harga BBM.