Teknopreneur.com – Awalnya memang saat bulan April di tahun 2011 silam, banyak pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang tertarik menjadi pengembang swasta (Independen Power Producer/IPP). Tentu saja indikatornya terlihat dari permintaan membangun PLTMH kepada PT PLN (Persero). Diperkirakan proposal yang masuk ada sekitar 600 megawatt (MW) yang tersebar di 200 lokasi.

Mellihat animo pengembang swasta yang ingin membenamkan duitnya di PLTMH, maka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan beleid baru penetapan harga jual listrik (feed in tariff) kepada PT PLN yang terbilang seksi untuk PLTMH di atas waduk milik negara. Beleid itu tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 22/2014. Menurut Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM yang dihubungi teknopreneur.com menetapkan tarif tegangan menengah dari PLTMH ditetapkan sebesar Rp 967,5 per kilowatt hour (kwh).

Pemerintah juga dikabarkan menyiapkan insentif bagi pengusaha berupa bebas biaya sewa pemanfataan bendungan alias tak perlu bangun bendungan. Maklum, sebelumnya para pengusaha enggan karena harga keekonomian mereka gak menutup. Meski begitu, berdasarkan kabar terakhir yang diterima teknopreneur.com, nampaknya harus menghela nafas panjang. Pasalnya, proyek PLTMH macet yang disebabkan harga jual listrik yang masih rendah serta tak bolehnya investor asing dalam saham proyek PLTMH.

Merujuk dari data Kementerian ESDM, menunjukkan ada 266 proyek PLTMH di Indonesia dengan total daya dari proyek ini mencapai 1.200 Mega Watt (MW) sekaligus membutuhkan dana tak kurang dari Rp 2,4 triliun. Namun, dalam paparan PLN yang terakhir, ternyata pemohon Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) untuk PLTMH saat ini sudah bertambah menjadi 340 proyek PLTMH. Total potensi daya pun naik menjadi 1.400 MW. Walaupun jumlah bertambah, proyek PLTMH ini tak dibarengi dengan lancarnya realisasinya. Sebab dari total 1.200 MW yang sudah dipetakan oleh pemerintah, total daya yang terealisasi baru mencapai 75 MW. Masih jauh dari total yang diperkirakan pemerintah.

Sisanya, masih dalam berbagai tahap mulai dari feasibility study hingga konstruksi. Maklum, waktu itu pengembang listrik meminta perubahan harga jual yang hanya Rp 656 per kilo watt per jam (kwh). Saat ini harga jual listrik PLTMH menjadi Rp 1.075 per kWh.