Teknopreneur.com – “Mahasiswa Indonesia jika di dalam kelas ditanya dosen, ‘apakah ada pertanyaan?’ Tak ada yang mengacungkan jari, kelas justru menjadi hening. Tapi jika dibuka kelas online, pertanyaan bertubi-tubi datang. Dari yang penting hingga tak penting. Bahkan ada yang menggunakan ‘emot’ untuk mengekspresikan pertanyaannya,”papar Budi Rahardjo, dosen IT di Institut Teknologi Bandung. Ia pun heran mengapa terjadi demikian.

Dirinya menduga bahwa mental mahasiswa yang belum terasah untuk berpendapat. “Mungkin mahasiswanya takut ditertawakan jika pertanyaannya tidak sesuai atau mereka lebih menyukai dunia maya karena disana tak perlu tatap muka hingga tak melihat dosen yang menyeramkan,” tambah pakar IT ini.

Dan ternyata kini tak hanya mahasiswa yang memiliki kuliah online, para siswa sekolah pun memilikinya. Pembelajarannya serupa bisa interaktif dengan dialog, chating, atau menggunakan skype.  Sehingga tak perlu tatap muka, guru bisa berasal dari mana saja. Sehingga bisa sekolah di luar negeri tanpa memerlukan banyak biaya.

Kelas online pun kini dibuka untuk  murid-murid yang sekolahnya terkena bencana, Rumah Belajar namanya. “Rumah belajar memang baru dibuat tahun ini, terinspirasi dari maraknya bencana yang tak sedikit meruntuhkan bangunan sekolahan di awal tahun ini,” jelas Ari Santoso Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi Pendidikan Kementerian Nasional.

Untuk menunjang kelas online maka dilakukanlah berbagai pembenahan. Satu persatu infrastruktur dibangun untuk mengembangkan sistem pendidikan berbasis digital ini. Dimulai dari pemerataan listrik hingga koneksi internet di sekolah-sekolah. Tak lupa juga pengetahuan tentang ilmu komputer di sekolah di Indonesia.  

Dan hasilnya sudah terlihat kemajuan, sekolah yang terkoneksi listrik dan internet semakin tahun semakin tumbuh. Terlihat dari data dapodik tahun 2013, bahwa sekolah yang terkoneksi listrik baru 159.450 sekolah sekarang sudah mencapai 192.655 sekolah. Sedangkan sekolah yang sudah terkoneksi internet tahun lalu baru 79.455 sekolah kini hampir dua kali lipatnya 137.950 sekolah dari total keseluruhan ada 209653 sekolah.

Untuk sekolah di Indonesia yang sudah menggunakan komputer berjumlah 73% yang terdiri dari 60% SD, 97% SMP, dan 96% SMA Sedrajat. Dengan banyaknya pembenahan di bidang infrastruktur maka diharapkan kelas online di Indonesia lebih cepat berkembang karena ternyata kelas online dinilai lebih efektif dan interaktif karena bisa dapat ilmu darimana saja. (FJ)