Teknopreneur.com- Rendahnya iklim inovasi di Indonesia ternyata tak hanya berdampak langsung pada banyaknya peneliti yang hijrah ke luar negeri. Misalnya saja Dr. Ines Irene Atmosukarto, mantan peneliti LIPI yang telah melakukan riset flu burung selama tiga tahun, akhirnya memutuskan hijrah ke Canberra, Australia pada tahun 2007.

Di Lipotek Pty Ltd, perusahaan tempatnya kini bekerja, Dr Ines dapat lebih mengembangkan riset vaksin flu burungnya dan didanai oleh Yayasan Bill Gates dan diberikan jabatan terhormat sebagai CEO di tempatnya bekerja. Pilihan ini, ia ambil lantaran lemahnya dukungan teknis maupun non teknis. Ines hanya satu dari peneliti yang hijrah keluar negeri. 

Ini merupakan dari anggaran riset di Indonesia yang semakin tahun bukannya bertambah justru mengalami penurunan. ”Pada zaman Soeharto anggaran riset 3,4% dari APBN namun bahkan pernah menjadi 2% dari APBN,”keluh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyatno.

Jika dibandingkan dengan negara lain Indonesia masih kalah jauh. Dana riset Indonesia hanya 0,08% dari PDB sedangkan Vietnam negara yang merdeka di tahun yang sama sudah mencapai 0,1%. Apalagi Malaysia  dan Singapura sudah mencapai 1% dan 2,4%. 

“Padahal Idealnya dana riset itu 80 triliun namun di Indonesia baru 10,4 triliun,”kata Kepala Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Lukman Hakim kepada Presiden Jokowi dihadapan wartawan.

Jokowi menyayangkan kecilnya anggaran tersebut karena bukan hanya bisa menghambat pembangunan di negara ini namun juga bisa mendorong banyaknya peneliti yang hijrah ke luar negeri. Maka Jokowi pun menjanjikan dana riset di anggaran negara tahun berikutnya diperbesar namun dengan syarat peneliti Indonesia harus bisa menghasilkan inovasi yang berkualitas.