Teknopreneur.com – Begitu cepat ekonomi dunia kini mulai berkembang, terutama Asia. Berdasarkan data dari Bank DBS, dalam satu dekade terakhir, kawasan urban baru seperti China dan India berhasil menjadi pusat-pusat bisnis yang berkembang begitu pesat. Bahkan, dalam risetnya itu tertulis bahwa laju ekonomi kedua negara itu dalam tiga tahun terakhir juga telah membawa Asia tumbuh 6%.

Sudah barang tentu, ketika pertumbuhan ekonomi semakin melesat, kebutuhan energi pun akan mengikuti. Sebuah data diumumkan oleh Badan Energi Internasional terkait kebutuhan energi dunia cukup mengagetkan. Dalam laporannya itu, memprediksikan kebutuhan energi dunia akan naik sepertiga pada periode 2011-2037, dan Asia akan menjadi konsumen terbesar. Tentu saja prediksi Asia bakal menjadi konsumen terbesar energi, rasanya semua orang tahu.

Tercatat sejak 2000, kebutuhan minyak di Asia melonjak 40% atau menjadi 8 juta barel per hari. Pada 2030, Cina bahkan sudah akan melampaui Amerika Serikat sebagai konsumen minyak terbesar di dunia. Sedangkan India menjadi importer batubara terbesar pada 2020. Dengan konsumsi sebesar itu, tidak mengherankan jika pada 2035 Asia diperkirakan akan mengimpor minyak setara dengan seluruh jumlah produksi negara-negara Timur Tengah saat ini.

Adapun impor gas akan meningkat menjadi lima kali lipat, karena produksi lokal tak sanggup memenuhi besarnya permintaan. Meskipun demikian, apakah impor akan menjadi solusi pencegahan krisis energi di setiap negara di Asia? Tidak! Kenapa? Mereka tidak akan melakukan hal itu sebagai tulang punggung penyediaan energi. Mungkin, itu bagi mereka sama saja bunuh diri.

Lalu, apa yang akan mereka lakukan? Ya, tepat. Nuklir akan menjadi prioritas mereka kelak. Oleh sebab itu, berbagai negara mulai berbondong-bondong membangun nuklir. Data yang dihimpun oleh Bank DBS, mengatakan 3,5% per tahun pertumbuhan berkembangnya energi nuklir di Asia. Saat ini saja sudah ada 119 energi nuklir yang beroperasi di Jepang, India, Korea Selatan, China, dan Pakistan. Di saat mereka gencar mendirikan nuklir, bagaimana dengan Indonesia? “Soal nuklir, yang jelas Indonesia harus punya leadership yang mantap,” begitu kira-kira kata berbagai pengamat. Mungkinkah Jokowi berani? Kita tunggu saja.