Teknopreneur.com – Beberapa waktu yang lalu, Teknopreneur.com pernah menanyakan perihal kenaikan harga BBM yang berpengaruh terhadap perkembangan energi terbarukan kepada Managing Director Katadata, Ade wahyudi. Menurut dia, dengan keadaan harga BBM bersubsidi lebih kecil, tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan energi terbarukan. “Energi terbarukan yang diolah dari tenaga air, angin, panas bumi dan lainnya, akan sulit berkembang kalau harga BBM bersubsidi lebih kecil,” ucapnya.

Hal tersebut juga ditanggapi oleh pengamat energi Iwan Ratman. Dirinya berujar harga keekonomian energi terbarukan tidak akan terjangkau manakala peningkatan harga BBM masih terbilang rendah. Bila BBM disubsidi misal seperti sekarang Rp 5500 per liter, maka untuk solar yang harga ekonomisnya adalah Rp 10 ribu per liter, tentu pembangkit listrik dari solar akan menghasilkan harga listrik murah misal 15 cent USD/kwh.

Padahal, energi terbarukan misalnya pembangkit listrik tenaga surya nilai keekonomiannya mencapai 25 cent USD/kwh. Maka, sudah barang tentu, kata dia, mengembangkan energi terbarukan akan lebih mahal. “Karena memang capital expenses-nya lebih mahal. Makanya dengan adanya BBM bersubsidi mengakibatkan pengembangan energi terbarukan akan terhambat,” ujarnya saat dihubungi teknopreneur.com.

Untuk itu, dirinya memberikan saran jika alangkah baiknya saat ini energi terbarukan diarahkan untuk mengisi kebutuhan listrik di remote area, daerah-daerah perbatasan, daerah terpencil, serta untuk kawasan-kawasan industri di mana pasokan listrik PLN belum terjamah sehingga harga keekonomiannya bisa tercapai. “Intinya cari konsumen di mana listrik bisa dijual dengan harga keekonomian,” tutupnya.