Teknopreneur.com- Sepanjang tahun 2013 industri game Indonesia telah membukukan angka pemasukan yang cukup besar, mencapai US$190 juta, naik 26,7% dari tahun 2012. Industri game online di Indonesia yang telah berusia 13 tahun ini terus menunjukkan peningkatan dan kemajuan baik dari segi bisnis maupun pertumbuhan penggunanya. Hal ini dibuktikan lewat jumlah pemain game online di Indonesia yang saat ini mencapai lebih dari 25 juta pemain game hingga tutup tahun  2013 kemarin, angka ini naik 25% dari tahun 2012.

Pertumbuhan ini, amat didukung oleh kehadiran para geme developer.Menurut survey Agate, salah satu game developer asal Bandung saat ini ada sekitar 80 tim game developer tersebar di Indonesia. Dan rata-rata masih berumur tiga tahun, hanya beberapa yang sudah berumur lebih dari empat tahun diantaranya Altermyth, Agate Studio, Garuda Game, Toge Production, dan Touchten.

Namun, dari jumlah tim tersebut, menurut Frida Dwi, Co-founder Agate Jogja hanya ada sekitar 10 game developer yang telah berbadan hukum. Meski begitu, dirinya tak terlalu memusingkan hal tersebut. Menurutnya, tanpa menjadi badan hukum pun akan tetap bisa berkarya. Bahkan Ube, sapaan akrab Frida menjelaskan  membentuk legalitas usaha bukan hal yang terlalu penting bagi para game developer karena platform monetization sendiri tidak mengharuskan game developer berbentuk badan hukum. Hal ini diperkuat oleh RobiBaskoro, CEO Duniaku, menurutnya pasar tidak membutuhkan badan usaha, karena yang dijual adalah service game.

Lalu apa sebenarnya tantangan untuk terus mengembangkan industri game di Indonesia? Aditia Dwiperdana, Co-founder Agate Studio pun mengungkapkan kesulitan yang selama ini mereka rasakan dalam membangun industri game lokal. Menurutnya, permasalahan yang cukup menggangggu ada dua yang intinya adalah tingkat awwarnes dari berbagai pihak. Meski dua tahun belakangan sudah ada kemajuan untuk mendukung industri ini, seperti dukungan dari pemerintah dalam industri kreatif digital.

Pertama, menurut Adit adalah SDM. Industri ini tak akan maju tanpa adanya koordinasi yang lebih baik antara institusi akademis dengan industri game development agar SDM yang  dihasilkan nantinya sesuai dengan kebutuhan industri. Yang kedua adalah perlu ada beberapa keringanan dari aspek kebijakan finansial seperti keringanan pajak dan  kemudahan mendapatkan pendanaan dari institusi finansial seperti bank. Saat ini Adit menceritakan perusahaan di industri kreatif sulit mendapatkan pinjaman dari bank, karena asset industri kreatif seperti IP atau SDM tidak bisa dijadikan jaminan ke bank, dan mayoritas pelaku di industri ini tidak memiliki asset seperti mesin pabrik, kendaraan, tanah, atau bangunan. Yah, semoga ke depan pemerintah bersama berbagai pihak bisa sama-sama berkolaborasi memajukan industri game Indonesia. (FJ)