Teknopreneur.com – Suburnya perusahaan payment gateway di Indonesia beberapa tahun ini, menjadi perhatian Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Darmadi Sutanto untuk ikut berpendapat. Menurutnya, belum adanya sistem pembayaran yang terintegrasi dan menyatu, membuat tumbuhnya banyak sistem pembayaran.

Hal senada juga diungkapkan oleh Chief Marketing Officer PT Nusa Satu Inti Artha (Doku) – perusahaan payment gateway – Himelda Renuat menuturkan berkembangnya sistem pembayaran ini juga karena peran bank yang tidak cukup mengakomodir kebutuhan seluruh masyarakat untuk bertransaksi online. Pasalnya, perbankan juga memiliki aturan-aturan yang berlaku. “Sedangkan fleksibilitas perusahaan seperti kami sangat luas. Karena kami mempunyai segmentasi mulai dari perusahaan seperti Garuda Indonesia hingga kelas individu,” ujarnya.

Pertumbuhan e-commerce yang berdampak terhadap metode pembayaran online sudah seharusnya disikapi dengan saling bekerjasama antara perbankan dan perusahaan payment gateway. Maklum, ceruk bisnis ini pun menjadi peluang bagi perbankan, sehingga “perang” egosektoral pun masih melekat. Sebetulnya, kata Himelda, jika bersinergi antara perbankan dengan perusahaan payment gateway maka akan tercipta efisiensi. Sementara dari sisi pedagang, dipastikan akan ada penghematan yang signifikan daripada harus menggunakan banyak payment gateway.

“Keuntungannya itu tidak perlu menginvestasikan infrastruktur sendiri, biasanya kalau direct connection langsung ke bank, butuh seperti itu (infrastruktur). Kalau menggunakan jasa seperti payment gateway, mereka tak perlu dipusingkan dengan hal itu,” ujar Himelda. Sementara itu, bagi Darmadi, perbankan memiliki payment gateway sendiri adalah hal yang wajar. “Ini kan service perbankan kepada pelanggan,” jelasnya. Oleh sebab itu, dirinya menyetujui agar Bank Indonesia segera memberlakukan payment gateway yang mampu mengakomodir semua kalangan.