Teknopreneur.com – Dalam lima tahun ke depan, pemerintah akan menargetkan pembangunan listrik sebesar 35.000 MW. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji. “Eksekusinya di tahun 2015,” ungkapnya saat dihubungi Teknopreneur.com. Ia pun melanjutkan, dari total jumlah tersebut, 20.000 MW di alokasikan untuk swasta dan sisanya 15.000 MW dikerjakan oleh PLN. “Tapi semua itu bisa berubah,” ujar dia.

Dari total itu, peran energi terbarukan juga memberikan kontribusi. “Ya, ada. Coba cek di buku Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL),” singkatnya lewat pesan singkat. Jika menilik RUPTL tersebut, PLN masih berpegang teguh terhadap kebijakan Pemerintah untuk lebih optimal lagi dalam memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2010 mengenai penugasan Pemerintah kepada PLN untuk melakukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan energi terbarukan, batubara dan gas serta Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 02/2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 15/2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 01/2012 jo Peraturan Menteri ESDM No. 21/2013, maka PLN akan memprioritaskan pengembangan panas bumi (PLTP) dan tenaga air (PLTA).

Meski begitu, kedua jenis energi baru ini dapat masuk ke sistem tenaga listrik kapan saja mereka siap, walaupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan demand dan adanya rencana pembangkit yang lain. Dalam konteks ini PLN merencanakan pembangunan PLTA dan PLTP dengan skala besar. Sementara, untuk skala kecil berupa PLTS, PLTB, biomasa, biofuel dan gasifi kasi batubara (energi baru).